estoria.id – Upaya redaksi estoria.id meminta tanggapan anggota DPRD Sumenep, Virzannida Busro Karim, terkait kasus kematian seorang santri di Rumah Sakit Baghraf Health Care (BHC) Sumenep belum membuahkan jawaban. Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu belum memberikan respons atas permintaan wawancara yang dikirim melalui WhatsApp pada Selasa (20/10/2026).
Virzannida bukan sekadar anggota DPRD Sumenep. Pada periode 2024–2029, ia menjabat sebagai Ketua Badan Kehormatan sekaligus anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Sumenep. Kedua posisi tersebut membuat pandangannya relevan untuk dimintai keterangan mengenai persoalan yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan dan kepentingan masyarakat.
Berdasarkan tangkapan layar percakapan yang dimiliki redaksi, dua pesan dikirim untuk meminta kesediaan Virzannida memberikan keterangan mengenai kasus tersebut.
Pesan pertama dikirim pukul 09.33 WIB. Redaksi membuka komunikasi dengan salam, menyampaikan permohonan maaf karena mengganggu waktunya, dan meminta izin untuk melakukan wawancara.
Pesan pertama itu tercatat telah dibaca. Namun, hingga percakapan tersebut didokumentasikan, tidak terlihat balasan dari Virzannida.
Redaksi kemudian mengirim pesan kedua pada pukul 09.58 WIB untuk memperjelas pokok wawancara yang dimaksud.
“Mohon izin, jika berkenan untuk wawancara soal kematian pasien di RS BHC Sumenep,” tulis redaksi.
Pesan kedua tersebut telah terkirim, ditandai dua centang pada WhatsApp. Namun, berbeda dengan pesan pertama, pesan kedua belum menunjukkan tanda telah dibaca dalam tangkapan layar yang tersedia. Bukti komunikasi itu memperlihatkan bahwa pesan pertama telah dibaca, sedangkan pesan kedua baru berstatus terkirim.
Diketahui sebelumnya, Moh. Firman Ramadhani alias Dani merupakan santri yang menjalani kehidupan sederhana di lingkungan pesantren. Ia mengabdikan diri sebagai abdi dalem, menjalankan rutinitas di bagian laundry dalem Kiai, dan dikenal sebagai sosok yang rendah hati serta ringan tangan membantu teman-temannya.
Kepergian Dani meninggalkan duka bagi keluarga dan orang-orang yang mengenalnya. Di tengah kehilangan tersebut, keluarga masih menantikan penjelasan medis yang menyeluruh mengenai penyebab kematiannya di RS BHC Sumenep.
Sementara itu, upaya redaksi estoria.id meminta tanggapan sejumlah pihak, termasuk anggota DPRD Sumenep Virzannida Busro Karim, belum memperoleh jawaban hingga berita ini disusun. Redaksi tetap membuka ruang bagi yang bersangkutan untuk memberikan klarifikasi dan menyampaikan pandangannya mengenai kasus kematian santri di RS BHC Sumenep.