estoria.id - Kematian Moh. Firman Ramadhani alias Dani, santri berusia 22 tahun yang meninggal dunia di Rumah Sakit Baghraf Health Care (BHC) Sumenep, masih menyisakan pertanyaan mengenai penanganan medis. Di tengah sorotan tersebut, tindak lanjut Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Sumenep menjadi perhatian setelah Bupati menyatakan monitoring akan dilakukan.
Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, sebelumnya memastikan Dinkes akan bergerak untuk menelusuri apa yang sebenarnya terjadi di RS BHC. Pernyataan itu disampaikan seusai apel Hari Santri di Kantor Pemerintah Kabupaten Sumenep, Kamis (22/10/2026) pagi.
“Hari ini akan bergerak. Akan dipertanyakan untuk monitoring BHC, apa yang sebenarnya terjadi itu yang pertama. Kedua, kita tanya juga dari keluarga bagaimana,” kata Fauzi.
Redaksi estoria.id telah berupaya meminta keterangan langsung dari Kepala Dinkes P2KB Sumenep pada Kamis (22/10/2026) siang. Untuk keperluan konfirmasi, redaksi melakukan panggilan suara melalui WhatsApp sebanyak dua kali, masing-masing sekitar pukul 10.45 WIB dan 10.56 WIB. Namun, kedua panggilan tersebut tidak dijawab.
Di antara dua panggilan itu, pada pukul 10.47 WIB, jurnalis juga mengirimkan pesan untuk memperkenalkan diri sekaligus meminta waktu wawancara.
“Selamat Siang Bu. Mohon maaf sebelumnya. Mohon waktunya untuk wawancara,” demikian isi pesan yang dikirimkan.
Berdasarkan tangkapan layar komunikasi yang dimiliki redaksi, belum terlihat balasan atas pesan tersebut. Hingga berita ini ditulis, estoria.id belum memperoleh keterangan langsung dari Kepala Dinkes P2KB Sumenep melalui upaya konfirmasi itu.
Redaksi storia.id membuka ruang bagi Kepala Dinkes P2KB Sumenep untuk memberikan penjelasan mengenai pelaksanaan monitoring, langkah yang telah dilakukan, serta tindak lanjut atas pertanyaan keluarga almarhum.