estoria.id – Padamnya api kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan berarti penderitaan satwa liar ikut berakhir. Di balik hutan yang hangus, masih ada ancaman serius yang membayangi kelangsungan hidup satwa, termasuk orangutan Kalimantan yang kehilangan habitat dan sumber makanannya.

 

Kisah itu dialami Mama Abu dan anaknya, Abu. Keduanya ditemukan di tengah kawasan hutan bernilai konservasi tinggi yang terdampak kebakaran, di dalam lanskap perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

 

Kebakaran yang melanda kawasan tersebut telah menghilangkan pepohonan dan merusak habitat alami. Kondisi ini membuat satwa liar semakin kesulitan menemukan makanan maupun jalur aman untuk berpindah di dalam hutan.

 

Bagi Mama Abu, situasi tersebut menjadi tantangan berat. Ia tidak hanya harus bertahan hidup di tengah lingkungan yang rusak, tetapi juga melindungi anaknya yang masih sangat bergantung pada induknya.

 

Abu membutuhkan Mama Abu untuk mendapatkan makanan, perlindungan, serta mempelajari keterampilan dasar agar kelak mampu bertahan hidup di alam liar. Ketergantungan itu membuat keselamatan sang induk menjadi sangat penting bagi kelangsungan hidup anaknya.

 

Penyelamatan Mama Abu dan Abu dilakukan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Kementerian Kehutanan. Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) turut mendukung upaya konservasi orangutan di wilayah tersebut.

 

Namun, penyelamatan dari lokasi terdampak kebakaran hanyalah salah satu bagian dari upaya melindungi satwa liar. Kerusakan habitat dapat meninggalkan dampak berkepanjangan, bahkan setelah api dan asap menghilang.

 

Hilangnya pepohonan, terbatasnya sumber makanan, serta rusaknya jalur pergerakan membuat kawasan hutan yang sebelumnya menjadi tempat hidup satwa berubah menjadi lingkungan yang semakin berbahaya.

 

Kondisi ini menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla tidak cukup hanya berfokus pada pemadaman api. Perlindungan dan pemulihan habitat, serta penyelamatan satwa yang terdampak, juga menjadi bagian penting dalam menjaga kelestarian ekosistem.

 

Kisah Mama Abu dan Abu sekaligus menunjukkan bahwa dampak kebakaran hutan tidak selalu terlihat setelah kobaran api padam. Di tengah lanskap yang rusak, satwa liar masih harus menghadapi perjuangan panjang untuk bertahan hidup.

 

Dukungan masyarakat terhadap upaya konservasi pun menjadi penting agar lebih banyak satwa yang terdampak kebakaran memperoleh kesempatan untuk hidup dengan aman.

 

Melalui kampanye yang disampaikan pada 2 Oktober, YIARI mengajak masyarakat untuk menyebarluaskan kisah satwa terdampak kebakaran serta memberikan donasi melalui fitur penggalangan dana di Instagram atau tautan pada bio akun mereka guna mendukung perlindungan orangutan dan satwa liar lainnya.