Aku memanggilmu, Said.
Lihatlah jari-jari tanganku
yang masih menari di halaman berita
tentang kematianku sendiri.
Barangkali hanya itu yang tersisa
dari tubuh yang tak lagi bisa bersaksi.
Aku tak hendak mengatakan
kaulah yang mendirikan rumah sakit itu,
bangunan megah tempat aku singgah
untuk menjemput sisa usia,
sebelum malam menutup pintunya
dan pagi tak lagi mengenal namaku.
Aku tak peduli
kau sedang menggenggam anggaran
atau duduk di kursi kekuasaan mana.
Aku terbaring di sini
karena pernah memilih berbaring
di atas ranjang bangunan itu.
Selebihnya, aku tak tahu
siapa yang menjaga tubuhku
ketika aku tak lagi sanggup menjaganya.
Aku memanggilmu, Said.
Dengan kuasamu,
cobalah ketuk pintu anak-anakmu.
Mintalah mereka membuka percakapan
yang telanjur tertutup
sejak tubuhku dibawa pulang
tanpa jawaban yang utuh.
Aku ingin keluargaku tahu
apa yang sesungguhnya terjadi,
agar mereka dapat melepaskanku
tanpa harus terus menggenggam tanya,
agar ikhlas tak tumbuh dari keterpaksaan,
agar menerima bukan berarti
mengubur kecurigaan hidup-hidup.
Biarlah aku menanggung
kesalahan orang-orang di dekatmu,
juga kegelisahan orang-orang di dekatku.
Aku sudah berada di tempat
yang tak lagi membutuhkan pembelaan.
Tetapi mereka yang kutinggalkan
masih harus bangun setiap pagi
dengan sesuatu yang belum selesai.
Aku memanggilmu, Said.
Bukan untuk meminta
pintu-pintu dibuka bagi namaku,
bukan pula agar seseorang
lekas ditunjuk sebagai penyebab
dan perkara ini lekas dianggap usai.
Aku hanya ingin tahu
mengapa tubuh yang datang untuk dirawat
pulang sebagai kabar kematian,
sementara pertanyaan keluargaku
masih berdiri di lorong,
menunggu seseorang
bersedia menatapnya.
Said,
di sini tanah tak pernah bertanya
siapa yang punya kuasa,
siapa yang menyusun anggaran,
siapa yang namanya terpampang
di depan sebuah bangunan.
Tanah hanya menerima
apa yang diserahkan kepadanya.
Tetapi di atas sana,
orang-orang masih hidup
dengan jawaban yang bisa ditunda,
dengan pintu yang bisa ditutup,
dengan suara yang bisa dikecilkan
sampai nyaris tak terdengar.
Maka dengarlah aku sekali lagi, Said.
Aku tak meminta kau menghidupkanku.
Bahkan doa pun tahu
ada pintu yang tak bisa dibuka kembali.
Aku hanya meminta
jangan biarkan kematianku
menjadi sesuatu yang selesai
hanya karena tubuhku telah dikuburkan.
Sebab aku, Dani,
mungkin tak akan pernah pulang.
Tetapi keluargaku masih menunggu
di depan sebuah kebenaran
yang semestinya tak perlu
mereka gali sendiri.
Sumenep, 23 Oktober 2026