News
Trending

Sang Ayah Kenang Mimpi NS Ingin Jadi Kiai

Ia hanya ingin menjadi kiai. Di tengah duka yang tak terperi, sang ayah mengenang mimpi sederhana NS yang kini terhenti selamanya.

ESTORIA – Suasana duka masih menyelimuti keluarga NS, bocah berusia 12 tahun asal Desa Bojongsari, Jampangkulon, Sukabumi, yang meninggal dunia akibat luka bakar parah, Minggu (22/2/2026).

Ayah kandung korban, Anwar Satibi, tak kuasa menahan kesedihan saat mengenang sosok anaknya sebelum tragedi itu. Menurut Anwar, NS dikenal sebagai anak ceria dan taat.

“Beda dengan orang lain, dia ingin jadi kiai,” kata Anwar, ayah korban, sebagaimana dilansir sejumlah media, Sabtu (21/2).

Sejak setahun lalu, NS bahkan menimba ilmu di pesantren untuk mewujudkan cita-citanya menjadi ulama.

Anwar selalu mengingat momen ketika NS menerima uang saku dari ayahnya dengan penuh syukur, berjanji akan dipakai sebagai bekal di pesantren. Kenangan itulah yang terus membekas dalam ingatan Anwar hingga kini.

Kisah tragis bermula saat Anwar sedang bekerja di kota Sukabumi selama dua hari. Pada malam pertama bulan Ramadan, ia menerima telepon dari istrinya yang juga ibu tiri NS.

“Saya ditelepon, ‘pulang yah, si Raja teu damang, tos ngalantur, panas’. Itu kata istri saya,” tutur Anwar Satibi.

Ia pun segera pulang ke rumah dan mendapati pemandangan yang tak sesuai dengan bayangan saat dalam perjalanan pulang. “Pas sampai di rumah saya kaget kondisi anak saya sudah pada melepuh,” katanya.

Kulit tubuh NS nyaris melepuh di banyak bagian dan penuh luka lebam. Ia pun menangis histeris saat melihat kondisi putranya yang tak lagi berdaya.

Dalam tangisnya, Anwar menceritakan bahwa korban sempat mengaku disiram air panas oleh ibu tirinya, sebagaimana keterangan sang bocah yang terekam dalam video dan menjadi awal dugaan penganiayaan.

Sebelum kejadian tragis itu, Anwar mengungkap bahwa NS pernah beberapa kali menjadi korban kekerasan di rumah.

Sekitar setahun lalu, kata dia, ketika NS masih di kelas 6 SD, dirinya pernah melaporkan dugaan penganiayaan yang sama kepada Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA).

“Sebelumnya juga pernah terjadi penganiayaan, terus saya laporkan ke PPA Polres Pelabuhan Ratu dan istri saya datang memohon sujud ke saya dan akhirnya minta saran ke Pak Haji Isep dan dibilang tidak ada salahnya memaafkan orang siapa tahu berubah ke depan,” ungkap Anwar.

Atas saran tokoh masyarakat, Anwar memaafkan istri dan mencabut laporan setelah sang ibu tiri bersimpuh memohon ampun di hadapannya. Namun luka lama itu membuat Anwar tetap waspada.

Setelah kejadian penganiayaan terbaru ini, Anwar kembali melaporkan kasusnya ke polisi. “Sudah (bikin laporan) cuma di Polsek Jampangkulon, laporan sementara,” tutur dia kepada awak media.

Demi kejelasan kasus, Anwar mendesak tim medis melakukan autopsi jenazah NS. Ia mengaku curiga ada unsur kekerasan yang menyebabkan kematian anaknya.

“Kecurigaan ada tapi saya tidak bisa menuduh, makanya saya mau anak saya diautopsi. Saat kejadian, istri saya telepon bilang anak saya panas ternyata seperti ini,” katanya.

Hingga kini, polisi masih menunggu hasil otopsi dari laboratorium forensik untuk memastikan penyebab pasti kematian NS.

Meski diliputi duka, Anwar berharap proses hukum kasus ini dapat berjalan adil. Ia menegaskan bahwa siapa saja yang bertanggung jawab harus diproses sesuai aturan.

“Harapan saya kalau memang ini terbukti biar jadi efek jera… negara kita ini negara hukum… jadi jangan semena-mena,” ucapnya.

Anwar juga meminta masyarakat dan aparat hukum mengawal kasus ini dengan serius agar keadilan ditegakkan seadil-adilnya.

Dengan suara bergetar, ia berjanji akan terus memperjuangkan hak anaknya hingga terang benderang.

***


Sumber: Artikel ini disusun berdasarkan keterangan langsung dari ayah korban, Anwar Satibi, serta laporan resmi yang dipublikasikan sejumlah media massa seperti DetikJabar, iNews, dan Jawa Pos tanggal 21 Februari 2026.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button