LIPSUS, ESTORIA – Di balik lantunan doa dan ritual malam Nishfu Sya’ban, tersimpan pesan reflektif yang jarang disentuh secara terbuka: bagaimana manusia memperlakukan rezeki dalam keseharian hidupnya.
Momentum spiritual ini kerap dimaknai sebagai malam pengampunan, padahal di dalamnya juga terdapat ajakan untuk menata ulang tanggung jawab hidup, termasuk dalam mengelola keuangan.
Terkait hal di atas, Direktur Utama BPRS Bhakti Sumekar, Hairil Fajar, mengungkap hal menarik. Bahwa menurutnya, Nishfu Sya’ban bukanlah peristiwa religius.
Nishfu Sya’ban, kata dia, bisa dimaknai sebagai ruang perenungan yang membumi; mengaitkan makna spiritual Nishfu Sya’ban dengan kesadaran finansial umat.
“Tentang kejujuran, amanah, dan keberanian mengevaluasi cara hidup di tengah tantangan ekonomi,” ungkapnya, Selasa (3/2) pagi.
Maka Nishfu Sya’ban, sambung dia, tidak cukup dirayakan dengan doa dan ritual malam hari. Momen ini menurutnya akan lebih bermakna jika diartikan sebagai ruang sunyi untuk bercermin lebih dalam.
“Bukan hanya terkait ibadah, tetapi juga bagaimana cara manusia memperlakukan rezeki,” katanya.
Hairil Fajar menilai, ada satu hal penting yang sering luput dari perenungan Nishfu Sya’ban: kejujuran dalam mengelola kehidupan ekonomi.
“Nishfu Sya’ban itu waktu evaluasi. Kalau hidup kita ingin diberkahi, bukan hanya ibadah yang dibenahi, tapi juga cara kita mengelola uang,” jelasnya.
Spiritual, Tapi Terjebak Masalah Finansial
Hairil tidak menampik kenyataan bahwa banyak masyarakat religius justru terjerat persoalan ekonomi. Mulai dari utang konsumtif, gaya hidup tak terkontrol, hingga keputusan keuangan yang diambil tanpa perhitungan matang.
Menurutnya, persoalan tersebut bukan semata karena pendapatan kecil, melainkan rendahnya literasi keuangan dan kesadaran finansial.
“Banyak yang rajin berdoa dan ibadah, tapi tidak pernah duduk sebentar menghitung pengeluaran. Padahal setiap rupiah itu amanah,” kata Hairil.
Ia pun menegaskan bahwa dalam perspektif Islam, harta bukan sekadar milik pribadi, melainkan titipan yang kelak dimintai pertanggungjawaban. “Di sinilah Nishfu Sya’ban menemukan relevansinya dengan literasi keuangan umat,” tegasnya.
Literasi Keuangan Bagian dari Iman
Sebagai pimpinan bank syariah daerah, Hairil memandang literasi keuangan bukan sekadar urusan teknis perbankan, melainkan bagian dari kesadaran beragama. Mengelola keuangan secara bijak adalah wujud nyata nilai amanah dan tanggung jawab.
“Kalau kita percaya hidup ini dicatat, maka cara kita berutang, menabung, dan membelanjakan uang juga ikut dicatat. Literasi keuangan itu bukan sekadar pintar hitung, tapi sadar nilai,” terangnya.
Ia juga mengingatkan, bahwa minimnya pemahaman keuangan sering membuat masyarakat mudah terjebak pada tawaran keuangan instan yang berisiko dan merugikan.
Menjelang Ramadan, Alarm Konsumsi Dini
Menariknya, Hairil mengaitkan Nishfu Sya’ban dengan fenomena konsumsi masyarakat menjelang Ramadan. Alih-alih menjadi bulan pengendalian diri, Ramadan kerap berubah menjadi bulan peningkatan belanja.
“Puasa itu menahan, bukan menambah. Kalau Nishfu Sya’ban dijadikan titik sadar, Ramadan seharusnya lebih sederhana, bukan justru boros,” pesannya.
Sebab, lanjut Dirut Hairil Fajar, spiritualitas tanpa pengendalian diri dalam ekonomi, hanya akan melahirkan kelelahan batin. “Ibadah berjalan, tetapi hidup tetap terasa sempit,” kesannya.
Pesan untuk Umat
Di akhir perbincangan, Hairil Fajar menegaskan bahwa Nishfu Sya’ban tidak seharusnya berhenti sebagai seremoni tahunan. Ia harus menjadi momentum perubahan sikap hidup.
“Kalau umat ingin kuat, jangan hanya kuat doa. Harus kuat juga perencanaan hidupnya. Spiritualitas dan kecerdasan finansial itu satu paket,” katanya.
“Nishfu Sya’ban adalah panggilan sunyi agar manusia lebih jujur kepada Tuhan, kepada cara ia menjalani hidup, termasuk dalam urusan keuangan,” imbuhnya, menutup keterangan.



