estoria.id – Menjadi pendidik anak usia dini tidak cukup hanya menguasai teori di ruang kuliah. Mahasiswa juga dituntut mampu memahami karakter setiap anak, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus.

 

Pengalaman tersebut kini dijalani lima mahasiswa semester VII Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Fakultas Tarbiyah Universitas Annuqayah melalui kegiatan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) 2 di TK Muslimat NU VI, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan pada Senin (5/10/2026).

 

Sekolah tersebut dipilih bukan tanpa alasan. TK Muslimat NU VI merupakan lembaga pendidikan inklusi yang berupaya menciptakan lingkungan belajar ramah anak, termasuk bagi anak berkebutuhan khusus (ABK).

 

Di sekolah ini, anak-anak berkebutuhan khusus mengikuti proses pembelajaran bersama teman-teman sebayanya. Mereka mendapatkan ruang untuk belajar, bermain, dan berinteraksi dalam suasana yang aman, nyaman, serta menyenangkan.

 

Bagi mahasiswa PIAUD Universitas Annuqayah, kondisi tersebut menjadi kesempatan berharga untuk menguji sekaligus mengembangkan kemampuan yang selama ini dipelajari di bangku perkuliahan.

 

Ketua Program Studi PIAUD sekaligus Dosen Pendamping Lapangan, Ainul Hasanah, M.Si., mengatakan PPL 2 dirancang untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa, khususnya dalam menghadapi keberagaman karakter dan kebutuhan peserta didik di lembaga PAUD.

 

“PPL 2 ini kami adakan sebagai bentuk peningkatan kompetensi mahasiswa di bidang PAUD, terutama berkenaan dengan cara mendidik ABK di lembaga PAUD. Tujuan ini selaras dengan visi Prodi PIAUD, yaitu unggul dalam melahirkan tenaga pendidik profesional yang mampu menciptakan pendidikan ramah anak dengan berlandaskan Ahlussunnah wal Jamaah,” ujarnya.

 

Kegiatan ini sekaligus menjadi pengalaman pertama bagi mahasiswa PIAUD tersebut menjalani praktik mengajar di sekolah inklusi.

 

Pada dua hari pertama, mahasiswa tidak langsung mengambil alih pembelajaran. Mereka terlebih dahulu mendapat pendampingan dari guru pamong untuk mengenali karakter anak, memahami dinamika kelas, hingga mempelajari pola pembelajaran yang diterapkan di sekolah inklusi.

 

Tahap pengenalan tersebut menjadi bagian penting sebelum mahasiswa benar-benar terjun ke kelas. Sebab, mendidik anak usia dini, terlebih anak berkebutuhan khusus, membutuhkan kesabaran, ketelitian, dan pendekatan yang tidak bisa disamaratakan.

 

Setelah melewati masa pendampingan, mahasiswa mulai diberikan kesempatan mengajar secara langsung. Mereka diwajibkan melakukan sedikitnya 10 kali tatap muka selama pelaksanaan PPL 2.

 

Dalam proses tersebut, mahasiswa tidak sekadar belajar menyampaikan materi pembelajaran. Mereka juga dituntut mampu mengamati perkembangan anak, mengenali kebutuhan masing-masing peserta didik, serta menyesuaikan metode pembelajaran dengan kondisi dan karakter anak.

 

Pengalaman di sekolah inklusi ini menjadi pembelajaran penting bahwa pendidikan anak usia dini bukan hanya tentang bagaimana mengajar, tetapi juga bagaimana memahami, mendampingi, dan memberikan ruang yang setara bagi setiap anak.

 

Melalui PPL 2, Prodi PIAUD Universitas Annuqayah berharap mahasiswa memiliki bekal yang lebih kuat ketika nantinya terjun sebagai pendidik profesional.