estoria.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep, Jawa Timur, menempatkan Festival Musik Tongtong sebagai salah satu agenda unggulan untuk memeriahkan Hari Jadi ke-757 Kabupaten Sumenep. Kesenian perkusi tradisional khas Madura ini diharapkan mampu memperkuat daya tarik wisata sekaligus memperluas pengenalan budaya daerah.

 

Lebih dari sekadar pertunjukan musik, festival tersebut dinilai memiliki peluang besar untuk mendatangkan wisatawan dan menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat. Kekhasan irama serta tradisi yang melekat pada Musik Tongtong menjadi modal Sumenep untuk menawarkan pengalaman budaya kepada pengunjung dari berbagai daerah.

 

Potensi itu semakin terbuka setelah Festival Musik Tongtong masuk dalam program Karisma Event Nusantara (KEN), sebuah program nasional yang mendukung promosi acara unggulan pariwisata Indonesia.

 

Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Sumenep, Faruk Hanafi, mengatakan peringatan hari jadi daerah harus menjadi momentum untuk memperkenalkan kekayaan budaya lokal, bukan sekadar agenda seremonial tahunan.

 

Menurut dia, pelestarian kesenian tradisional perlu berjalan beriringan dengan upaya mengembangkan pariwisata dan memperkuat identitas daerah.

 

“Musik Tong-tong merupakan salah satu kekuatan budaya Sumenep yang harus terus kita jaga dan kembangkan. Event ini bukan hanya hiburan masyarakat, tetapi juga menjadi sarana promosi pariwisata dan identitas daerah,” ujar Faruk, Selasa (13/10/2026).

 

Pengakuan Festival Musik Tongtong dalam KEN menjadi peluang bagi Pemkab Sumenep untuk memperluas jangkauan promosi. Dengan penyelenggaraan yang menarik serta dukungan berbagai pihak, kesenian tersebut diharapkan mampu menarik perhatian wisatawan di luar Madura.

 

Namun, strategi promosi budaya dalam peringatan Hari Jadi ke-757 Sumenep tidak hanya mengandalkan festival musik. Pemkab juga menghadirkan agenda yang menonjolkan akar sejarah dan tradisi masyarakat setempat.

 

Dua di antaranya ialah Haul Raja-Raja Sumenep dan prosesi Arya Wiraraja. Kedua kegiatan tersebut melengkapi Festival Musik Tongtong dengan pendekatan yang berbeda, yakni mengajak masyarakat mengenang perjalanan sejarah sekaligus merawat tradisi yang diwariskan lintas generasi.

 

Rangkaian kegiatan itu memperlihatkan bahwa kekayaan budaya Sumenep tidak hanya terletak pada kesenian pertunjukan, tetapi juga mencakup nilai sejarah dan tradisi yang membentuk identitas masyarakatnya.

 

Faruk berharap perpaduan agenda seni, sejarah, dan tradisi tersebut dapat memperkuat posisi Sumenep sebagai daerah yang memiliki daya tarik wisata berbasis kebudayaan.

 

Ia menegaskan, keberhasilan kegiatan budaya tidak cukup diukur dari jumlah pengunjung atau kemeriahan acara saat berlangsung. Dampak yang lebih penting adalah keberlanjutan manfaatnya bagi masyarakat, baik dalam menjaga warisan leluhur maupun menciptakan peluang ekonomi.

 

“Harapan kami, kegiatan budaya seperti ini terus mendapat dukungan masyarakat. Selain menjaga warisan leluhur, kita ingin semakin banyak orang mengenal Sumenep melalui kekayaan seni, sejarah, dan tradisinya,” tandasnya.