Opini

Nisfu Syaban dan Kesempatan Kedua

ESTORIA – Malam itu datang perlahan, seperti bisikan yang menyentuh relung hati. Nisfu Syaban, separuh dari bulan yang dimuliakan, hadir bukan sekadar penanda waktu, melainkan undangan sunyi untuk kembali pulang, pulang kepada Tuhan, kepada diri sendiri, dan kepada harapan yang lama terpendam.

Di antara langit yang bening dan bumi yang terdiam, Nisfu Syaban diyakini sebagai malam penuh ampunan.

Malam ketika catatan amal diangkat, doa-doa mengetuk pintu langit, dan kasih sayang Allah mengalir tanpa batas bagi hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh memohon.

Banyak dari kita mungkin datang dengan hati yang lelah. Dengan langkah yang tertatih oleh kesalahan masa lalu, oleh janji-janji yang belum ditepati, oleh dosa yang diam-diam kita simpan rapat.

Namun Nisfu Syaban tak pernah menanyakan seberapa berat beban itu. Ia hanya meminta satu hal: kesediaan untuk menunduk, mengakui, dan berharap.

Dalam riwayat disebutkan, pada malam Nisfu Syaban Allah menurunkan rahmat-Nya, mengampuni hamba-hamba-Nya kecuali mereka yang masih menyimpan dengki dan permusuhan.

Maka malam ini bukan hanya soal doa dan dzikir, tetapi juga tentang memaafkan, melepaskan dendam yang mengikat jiwa, agar ampunan bisa masuk tanpa terhalang.

Di sudut-sudut masjid dan ruang-ruang rumah yang sunyi, ayat-ayat suci dilantunkan lirih. Ada yang menitikkan air mata, ada pula yang hanya terdiam, membiarkan hati berbicara dengan bahasa yang tak mampu diucapkan.

Nisfu Syaban mengajarkan bahwa tidak semua doa harus keras, tidak semua harap harus bersuara. Kadang cukup dengan diam yang penuh pasrah.

Malam ini juga menjadi jembatan menuju Ramadhan. Seperti angin lembut yang memberi isyarat bahwa bulan suci kian dekat.

Ia mengajak kita membersihkan niat, menata ulang langkah, dan menyiapkan hati agar Ramadhan kelak tak hanya singgah, tetapi benar-benar mengubah.

Nisfu Syaban bukan tentang siapa yang paling lama berdoa, atau siapa yang paling fasih melafalkan ayat. Ia tentang kejujuran hati.

Tentang keberanian mengakui bahwa kita rapuh, bahwa kita sering lalai, dan bahwa kita sangat membutuhkan ampunan-Nya.

Maka ketika malam kian larut dan dunia semakin sunyi, angkatlah tanganmu perlahan. Sampaikan segala yang tak sempat terucap.

Sebab di Nisfu Syaban, langit tak pernah benar-benar tertutup, dan doa-doa sekecil apa pun, selalu menemukan jalannya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button