Politik Tak Bisa Dihindari, Bahkan Saat Kita Memilih Diam
Diam sering dianggap netral. Namun dalam kehidupan bersama, keputusan tetap berjalan, dengan atau tanpa suara kita.
ESTORIA – Banyak orang merasa sudah aman dari politik ketika memilih netral, tidak ikut berdebat, tidak berkomentar, atau tidak terlibat dalam urusan publik. Diam dianggap sebagai jalan tengah.
Namun benarkah diam membuat kita berada di luar politik?
Keputusan Tetap Dibuat
Dalam keluarga, ketika ada perbedaan pendapat tentang keuangan atau pendidikan anak dan seseorang memilih tidak berbicara, keputusan tetap akan diambil.
Di lingkungan kerja, ketika karyawan tidak memberi masukan terhadap kebijakan baru, aturan tetap berlaku.
Di tingkat masyarakat, ketika warga tidak hadir dalam rapat atau tidak menggunakan hak pilih, pemimpin tetap terpilih dan kebijakan tetap dijalankan.
Keputusan tidak pernah berhenti hanya karena kita memilih diam.
Diam Juga Sebuah Sikap
Politik pada dasarnya adalah proses pengambilan keputusan yang memengaruhi banyak orang. Dalam proses itu, setiap suara memiliki arti, termasuk keputusan untuk tidak bersuara.
Memilih diam berarti memberikan ruang lebih besar bagi mereka yang aktif dan bersuara. Itu bukan netralitas mutlak, melainkan bentuk sikap yang juga memiliki konsekuensi.
Dalam demokrasi, partisipasi bukan hanya hak, tetapi juga cara menjaga keseimbangan kekuasaan.
Politik Itu Melekat dalam Kehidupan
Stigma bahwa politik itu kotor sering membuat orang menjauh. Padahal, politik dalam makna dasarnya adalah cara manusia mengelola kepentingan bersama.
Selama kita hidup berdampingan dengan orang lain, di rumah, sekolah, kantor, atau masyarakat, kita tidak pernah benar-benar berada di luar politik. Setiap pilihan, termasuk memilih tidak terlibat, tetap membawa dampak.
Pertanyaannya, jika keputusan akan tetap dibuat, apakah kita ingin terus berada di pinggir atau mulai mengambil bagian secara sadar?
NB: Bagian Ketiga dari seri Politik Dasar, “Politik Dimulai dari Diri Sendiri”.



