Arena

Posisi Kita dalam Keluarga yang Hidup di Indonesia

Pendidikan politik tidak selalu dimulai dari ruang sidang atau pemilu, tapi dari rumah tempat kita belajar peran sebagai ibu, bapak, anak, dan tetangga dalam kehidupan berbangsa.

ESTORIA – Banyak orang menganggap politik identik dengan perebutan kekuasaan, janji kampanye, atau perdebatan elite di televisi. Padahal, praktik politik pertama yang kita alami justru terjadi di rumah. Di sanalah kita belajar tentang tanggung jawab, hak, kewajiban, kepemimpinan, dan musyawarah.

Keluarga adalah unit sosial terkecil dalam masyarakat Indonesia. Nilai-nilai yang hidup di dalamnya mencerminkan fondasi kehidupan bernegara sebagaimana dirumuskan dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Ibu sebagai Penjaga Nilai dan Stabilitas

Dalam banyak keluarga Indonesia, ibu berperan sebagai pengasuh sekaligus penjaga harmoni. Ia mengatur kebutuhan rumah tangga, memastikan anak-anak mendapat pendidikan, dan menjaga hubungan emosional di dalam keluarga.

Peran ini sejalan dengan fungsi negara dalam melindungi warganya. Negara hadir untuk memastikan kesejahteraan sosial, pendidikan, dan perlindungan bagi rakyat.

Jika ibu adalah penjaga nilai dalam rumah, maka kebijakan sosial negara adalah bentuk tanggung jawab yang lebih luas.

Bapak Pegang Otoritas dan Tanggung Jawab

Bapak sering diposisikan sebagai penanggung jawab utama dalam keluarga. Ia mengambil keputusan strategis, menanggung risiko ekonomi, serta menjadi figur representatif di ruang publik.

Dalam konteks negara, fungsi ini serupa dengan peran eksekutif yang menjalankan pemerintahan. Kepemimpinan bukan soal kekuasaan semata, tetapi soal akuntabilitas dan keteladanan.

Anak sebagai Warga yang Sedang Dibentuk

Anak bukan hanya objek pengasuhan, melainkan subjek yang sedang dipersiapkan menjadi warga negara. Di rumah, anak belajar tentang aturan, disiplin, dan konsekuensi.

Di tingkat negara, pendidikan karakter menjadi fondasi demokrasi. Anak yang terbiasa berdialog, menghormati perbedaan, dan memahami tanggung jawab akan tumbuh menjadi warga yang sadar politik tanpa harus terjebak pada fanatisme.

Tetangga adalah Miniatur Demokrasi

Lingkungan sekitar rumah adalah ruang demokrasi pertama. Di sana ada gotong royong, musyawarah RT, hingga penyelesaian konflik kecil.

Interaksi antar tetangga mengajarkan bahwa hidup bersama membutuhkan kompromi dan komunikasi. Inilah praktik demokrasi yang sesungguhnya bukan sekadar mencoblos saat pemilu.

Indonesia sebagai Rumah Besar

Indonesia bisa dipahami sebagai “rumah besar” yang dihuni oleh jutaan keluarga dengan latar belakang berbeda. Pancasila menjadi nilai bersama yang menyatukan, sebagaimana aturan dalam keluarga menyatukan anggotanya.

Jika setiap individu memahami posisinya sebagai orang tua, anak, atau anggota masyarakat, maka kesadaran politik tumbuh secara alami. Politik tidak lagi dianggap kotor, tetapi sebagai tata kelola kehidupan bersama.

Pendidikan politik sejati bukan hanya soal memilih pemimpin, melainkan memahami peran kita dalam sistem sosial. Dari rumah tangga itulah kesadaran sebagai warga negara Indonesia dibentuk.

Ke depan, Rubrik Arena Estoria akan mengulas berbagai aspek pendidikan politik yang membumi, dari ruang keluarga hingga dinamika kebijakan publik.

***

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button