Purbaya Bilang Tambah Utang Lebih Baik daripada Krisis
Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kebijakan fiskal ekspansif diambil untuk menjaga ekonomi tetap tumbuh dan menembus target 6 persen.
ESTORIA – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, arah kebijakan fiskal pemerintah di tengah tekanan ekonomi global awal tahun ini menuntut keputusan yang tidak mudah.
Pemerintah, kata dia, memilih langkah paling minim risiko bagi masyarakat demi menjaga stabilitas nasional.
Ia menyebut perlambatan ekonomi beberapa waktu terakhir membuat pemerintah harus menentukan prioritas kebijakan.
Dalam situasi tersebut, pemerintah memilih menambah utang secara terbatas dibanding menghadapi risiko krisis besar seperti yang pernah terjadi di masa lalu.
“Ini kan kemarin terpaksa karena ada perlambatan signifikan. Pilihannya yang mana? Ke kondisi seperti 1998 atau meningkatkan utang sedikit, tetapi ekonomi kita selamat habis itu kita tata ulang semuanya,” ujar Purbaya di The Tribrata Darmawangsa, Senin (16/2/2026).
Menurutnya, penambahan utang dilakukan secara hati-hati sebagai stimulus agar aktivitas ekonomi tetap bergerak.
Fokus utama pemerintah saat ini adalah mencegah ekonomi jatuh ke krisis sistemik sebelum melakukan konsolidasi dan penyehatan kembali anggaran negara.
Ia menjelaskan, langkah “tata ulang” yang dimaksud mencakup komitmen memperkuat APBN melalui peningkatan penerimaan negara setelah kondisi ekonomi dinilai benar-benar stabil.
Ekspansi fiskal yang ditempuh saat ini disebutnya hanya bersifat sementara dan nantinya akan diikuti efisiensi di berbagai sektor.
Purbaya juga mengingatkan pelaku jasa keuangan agar tetap optimistis dalam menyalurkan likuiditas. Pemerintah berharap kebijakan penyelamatan ekonomi ini memberi ruang bagi dunia usaha untuk terus berekspansi sehingga pemulihan berlangsung lebih cepat tanpa mengorbankan kesejahteraan masyarakat.
Sebelumnya, ia menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat melampaui 6 persen pada 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibanding asumsi APBN yang dipatok 5,4 persen.
Menurut Purbaya, capaian itu penting agar Indonesia keluar dari pola pertumbuhan yang selama ini bertahan di sekitar 5 persen.
“Karena apalagi terjadi, berarti kita sudah keluar dari kutukan pertumbuhan 5 persen,” ujarnya dalam forum Indonesia Economic Outlook, Jumat (13/2/2026).
Ia menegaskan pemerintah tidak ingin ekonomi terjebak dalam stagnasi. Proyeksi pemerintah menempatkan pertumbuhan 2026 pada kisaran 5,5 hingga 6 persen.
Target tersebut, kata dia, bukan sekadar angka formal, melainkan cerminan penguatan momentum pemulihan ekonomi.
Fondasi ekonomi nasional disebutnya berada dalam kondisi solid, didukung percepatan berbagai program prioritas, termasuk stimulus dan belanja sosial untuk menjaga daya beli masyarakat serta likuiditas sistem keuangan.
Purbaya juga optimistis Indonesia bisa menuju visi Indonesia Emas jika momentum pertumbuhan dijaga konsisten.
Ia menilai banyak pihak mempertanyakan prospek ekonomi jangka menengah, bukan hanya per kuartal.
Untuk menjawab itu, ia menjelaskan ekonomi Indonesia bergerak dalam siklus ekspansi dan perlambatan. Setelah periode resesi singkat, biasanya diikuti fase pertumbuhan yang lebih panjang.
“Ini bola kristal ekonomi Indonesia saya keluarkan lagi, ekonomi kita biasanya ada ekspansi, resesi, ekspansi, resesi. Ekspansi bisa berlangsung antara 7–10 persen habis itu resesi setahun, kemudian ekspansi lagi. Jadi anda nggak usah takut prospek jangka menengah ekonomi kita, itu akan terjadi betul karena kebijakan kita pas, menterinya pas lah kira-kira,” jelasnya memaparkan.
Ia menambahkan sejumlah indikator ekonomi mulai menunjukkan perbaikan. Indeks yang memproyeksikan kondisi ekonomi enam hingga dua belas bulan ke depan sempat melemah, namun dalam beberapa bulan terakhir kembali meningkat. Indikator kondisi ekonomi terkini juga menunjukkan tren membaik.
Jika konsistensi kebijakan dapat dipertahankan, Purbaya menilai Indonesia berpeluang menjaga pertumbuhan hingga 2033. Ia optimistis arah tersebut akan membawa Indonesia menuju masa keemasan.
“Jadi kelihatannya kita ada kemungkinan besar bisa membawa ekonomi Indonesia ke Indonesia emas, bukan Indonesia suram,” tukasnya. (*)



