Penyelamatan Mama Abu dan Abu dilakukan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Kementerian Kehutanan. Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) turut mendukung upaya konservasi orangutan di wilayah tersebut.

 

Namun, penyelamatan dari lokasi terdampak kebakaran hanyalah salah satu bagian dari upaya melindungi satwa liar. Kerusakan habitat dapat meninggalkan dampak berkepanjangan, bahkan setelah api dan asap menghilang.

 

Hilangnya pepohonan, terbatasnya sumber makanan, serta rusaknya jalur pergerakan membuat kawasan hutan yang sebelumnya menjadi tempat hidup satwa berubah menjadi lingkungan yang semakin berbahaya.

 

Kondisi ini menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla tidak cukup hanya berfokus pada pemadaman api. Perlindungan dan pemulihan habitat, serta penyelamatan satwa yang terdampak, juga menjadi bagian penting dalam menjaga kelestarian ekosistem.

 

Kisah Mama Abu dan Abu sekaligus menunjukkan bahwa dampak kebakaran hutan tidak selalu terlihat setelah kobaran api padam. Di tengah lanskap yang rusak, satwa liar masih harus menghadapi perjuangan panjang untuk bertahan hidup.