estoria.id – “Ma, kenapa sih asapnya nggak berhenti-berhenti? Kan Aira mau sekolah.”
Pertanyaan sederhana itu keluar dari mulut Aira, bocah perempuan berusia empat tahun yang harus menjalani hari-harinya di tengah kepungan kabut asap. Ia hanya ingin kembali bersekolah, bertemu teman-teman dan gurunya, serta bermain di luar rumah.
Namun, hampir empat bulan tinggal di kota yang dipenuhi asap membuat keinginan sederhana itu belum bisa ia nikmati seperti anak-anak lainnya.
Keluhan Aira terekam dalam video yang diunggah melalui akun Instagram @aira.anastasyia65 pada Senin (12/10/2026). Dalam video tersebut, Aira menyampaikan pesan kepada Presiden tentang kondisi yang dialaminya.
“Halo, Pak. Nama saya Aira, Pak. Umur saya empat tahun, Pak,” ucapnya.
Ia kemudian menceritakan bahwa dirinya telah tinggal di kota penuh asap selama hampir empat bulan.
“Sudah hampir empat bulan, Pak, saya tinggal di kota penuh asap, Pak,” katanya.
Selama kondisi tersebut berlangsung, Aira mengikuti kegiatan sekolah dari rumah melalui Zoom. Dalam video itu, ia terlihat belajar menggunakan tablet di dalam rumah.
Meski masih bisa mengikuti pelajaran, Aira merindukan suasana sekolah yang sesungguhnya. Ia ingin bertemu langsung dengan teman-teman dan gurunya, bukan hanya melihat mereka melalui layar.
“Saya ingin sekolah lagi. Saya ingin bertemu teman-teman dan guru. Saya ingin bermain di luar, Pak,” tuturnya.
Keinginan itu seharusnya menjadi bagian biasa dari masa kecil seorang anak. Namun, kabut asap membuat Aira harus menunggu untuk kembali menikmati aktivitas tersebut.
Bagi anak-anak, paparan asap juga bukan persoalan sepele. Asap kebakaran dapat mengganggu kesehatan, terutama pernapasan. Karena itu, penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) harus disertai upaya melindungi warga dari dampak buruk kualitas udara.
Di tengah kondisi itu, Aira mengajukan pertanyaan yang menyentuh sekaligus menuntut jawaban.
“Kapan, Pak? Kapan kabut asap berhenti, Pak?”
Menjelang akhir video, Aira menyampaikan kalimat yang menjadi inti kerinduannya.
“Kami ingin melihat matahari lagi, Pak.”
Kalimat itu sederhana, tetapi menggambarkan apa yang diharapkan Aira: langit kembali cerah, udara bersih, sekolah kembali menyenangkan, dan anak-anak bisa bermain tanpa dibayangi kabut asap.
Pertanyaan tersebut menjadi pesan sederhana bagi pemerintah. Masyarakat tidak hanya membutuhkan upaya pemadaman kebakaran, tetapi juga kepastian kapan kondisi udara dapat kembali aman dan aktivitas sehari-hari berjalan normal.
Video Aira mendapat perhatian luas dari warganet. Berdasarkan pantauan pada Selasa (13/10/2026), unggahan tersebut telah meraih sekitar 130 ribu tanda suka dan 2.168 komentar.
Sejumlah warganet menyampaikan kesedihan dan meminta pemerintah segera bertindak. Akun Instagram @neni.yuniarti.31, misalnya, mempertanyakan kepedulian para pejabat terhadap kondisi yang dialami anak-anak akibat kabut asap.
“Hei..., bapak bapak disana... ga tergerak hati kalian, ga bergetar hati kalian dengar suara anak ini. Untuk segera bergerak melakukan sesuatu agar keadaan disana normal lagi,” tulisnya sembari menandai akun Presiden Prabowo Subianto.
Komentar bernada keras juga disampaikan akun @octaviani.pr. Ia mendesak pemerintah agar tidak membiarkan masyarakat terus menghadapi dampak kebakaran selama berbulan-bulan.
Sementara itu, akun @ayuuputrahma turut menandai akun Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka agar mendengarkan keluhan Aira.
Beragam komentar tersebut menunjukkan bahwa persoalan kabut asap bukan hanya menyangkut lingkungan, tetapi juga menyentuh kesehatan, pendidikan, dan kehidupan masyarakat.