ESTORIA - Madura United akhirnya berhasil bertahan di Liga 1 musim 2025/2026. Namun, di balik keberhasilan itu tersimpan kisah panjang penuh gejolak, pergantian pelatih, konflik internal, hingga hilangnya kepercayaan di dalam tim.

 

Laskar Sapeh Kerrab menutup musim di peringkat ke-14 dengan koleksi 35 poin, hanya unggul satu angka dari Persis Solo yang harus terdegradasi dari kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Posisi tersebut menjadi bukti betapa tipis jarak antara keselamatan dan keterpurukan yang dialami Madura United sepanjang musim.

 

Sejak kompetisi bergulir, tim asal Pulau Garam itu nyaris tak pernah benar-benar keluar dari tekanan. Bersama pelatih Alfredo Vera, Madura United hanya mampu meraih satu kemenangan dalam enam laga awal. Situasi semakin memburuk ketika tongkat kepelatihan beralih ke Carlos Parreira. Di bawah kepemimpinannya, Madura United terjebak dalam rentetan 10 pertandingan tanpa kemenangan.

 

Ketika ancaman degradasi semakin nyata, manajemen akhirnya menunjuk Rakhmad Basuki yang sebelumnya berstatus asisten pelatih sebagai pelatih interim. Keputusan itu menjadi titik balik yang perlahan mengubah arah perjalanan tim.

 

Namun menurut Rakhmad, buruknya performa Madura United tidak bisa semata-mata dibebankan kepada pelatih. Ia menilai persoalan yang dihadapi tim jauh lebih kompleks, mulai dari proses perekrutan pemain hingga ketidaksesuaian filosofi permainan yang diterapkan.

 

"Banyak dinamika yang terjadi di dalam tim. Bukan hanya tim kepelatihan yang bertanggung jawab terhadap performa yang kurang bagus musim ini. Perekrutan pemain juga menjadi salah satu penyebabnya," ungkap Rakhmad, dikutip dari berbagai sumber, Selasa (09/06/2026).

 

Pelatih asal Pamekasan itu menilai pergantian pelatih di tengah musim justru memperparah kondisi yang sudah tidak stabil. Menurutnya, Madura United sebenarnya mulai menemukan identitas permainan bersama Alfredo Vera yang mengandalkan skema 4-3-3 dan kekuatan sektor sayap.

 

Namun semuanya berubah ketika Carlos Parreira datang dengan pendekatan berbeda. Formasi tiga bek yang diterapkan dianggap tidak sesuai dengan karakter pemain yang sudah dibangun sejak awal musim.

 

"Alfredo Vera sebenarnya sudah mulai menemukan bentuk permainan tim. Tetapi ketika pelatih berganti dan membawa ide baru, pemain harus kembali beradaptasi. Itu membuat situasi semakin sulit," jelasnya.

 

Perubahan taktik tersebut berdampak langsung terhadap performa sejumlah pemain kunci. Pemain-pemain sayap yang sebelumnya menjadi andalan kehilangan peran sentral dalam skema baru, sementara tim belum mampu beradaptasi secara optimal.

 

Akibatnya, Madura United semakin terpuruk. Hasil buruk yang terus berdatangan bukan hanya memengaruhi posisi di klasemen, tetapi juga menghancurkan mental para pemain.

Rakhmad mengungkapkan, suasana ruang ganti saat itu jauh dari ideal. Frustrasi akibat rentetan kekalahan membuat hubungan antar pemain memburuk. Bahkan, pertengkaran sempat terjadi dalam sesi latihan.

 

"Kondisinya saat itu sangat sulit. Kadang-kadang di latihan ada pemain yang berantem. Ketika kalah, semua saling menyalahkan," katanya.

 

Saat dipercaya memimpin tim, langkah pertama yang dilakukan Rakhmad bukan mengubah taktik atau strategi, melainkan membenahi mental dan hubungan antar pemain. Ia berusaha mengembalikan kepercayaan yang sudah hilang dan membangun kembali kekompakan di dalam skuad.

 

Kepada para pemain, ia meminta agar berhenti mencari kambing hitam setiap kali tim menelan kekalahan. Sebaliknya, mereka diminta lebih banyak melakukan introspeksi.

 

"Saya selalu bilang, kalau kalah jangan langsung menunjuk orang lain. Coba tunjuk diri sendiri dulu. Dengan begitu setiap pemain bisa belajar dari kesalahan dan berkembang bersama," ujarnya.

 

Perlahan, pendekatan tersebut mulai membuahkan hasil. Kondisi tim menjadi lebih kondusif, komunikasi membaik, dan kepercayaan diri pemain kembali tumbuh. Dari situ, Madura United mulai mengumpulkan poin-poin penting yang akhirnya menyelamatkan mereka dari jurang degradasi.

 

Meski berhasil mempertahankan Madura United di Liga 1, Rakhmad menyebut musim 2025/2026 sebagai periode paling berat selama dirinya berada di tim senior Sapeh Kerrab.

 

"Periode itu yang paling buruk. Antar pemain sudah tidak saling percaya, pemain kepada pelatih juga sudah tidak saling percaya," kenangnya.

 

Ke depan, Rakhmad berharap pengalaman pahit tersebut menjadi pelajaran berharga bagi seluruh elemen tim. Ia tidak ingin Madura United kembali menghabiskan musim hanya untuk berjuang menghindari degradasi.

 

"Ini tidak boleh terulang lagi. Sejak awal musim nanti semuanya harus dipersiapkan dengan lebih baik. Dua tahun berjuang di zona degradasi itu sangat berat," pungkasnya.