estoria.id – An Se Young kian mengukuhkan namanya sebagai salah satu bintang terbesar bulu tangkis dunia. Pebulu tangkis tunggal putri asal Korea Selatan itu mencatatkan pencapaian bersejarah setelah menjuarai Denmark Open 2026 dan melampaui rekor koleksi gelar milik legenda Indonesia, Susy Susanti.

 

Kemenangan atas Akane Yamaguchi di partai final Denmark Open 2026 mengantarkan An Se Young meraih gelar ke-47 sepanjang kariernya. Catatan tersebut melewati koleksi 46 gelar yang sebelumnya dimiliki Susy Susanti, salah satu ikon bulu tangkis Indonesia yang mendominasi persaingan pada era 1990-an.

 

Pencapaian ini menjadi babak penting dalam perjalanan karier An Se Young. Di usia 24 tahun, ia telah mengumpulkan sederet gelar bergengsi dan menunjukkan konsistensi yang membuatnya menjadi lawan tangguh bagi para pemain elite dunia.

 

Mengawali Karier Sejak Usia Belia

 

An Se Young lahir di Gwangju, Korea Selatan, pada 5 Februari 2002. Bakatnya mulai terlihat sejak usia muda hingga ia mendapat kesempatan memperkuat negaranya dalam berbagai kejuaraan junior.

 

Sejumlah gelar berhasil diraihnya di level junior, di antaranya Jakarta Open Junior International, Jaya Raya Junior Grand Prix, dan Kejuaraan Junior Asia U-15. Meski tidak langsung mendominasi kelompok usia U-17 dan U-19, perkembangan permainannya terus berlanjut.

 

Bahkan, ketika masih berusia belasan tahun, An Se Young telah dipercaya memperkuat tim senior Korea Selatan. Salah satu pengalaman pentingnya adalah tampil di Asian Games 2018, yang menjadi bagian dari proses pembentukan dirinya sebagai atlet profesional.

 

Namanya mulai mencuri perhatian pada periode 2018–2019, ketika ia semakin sering meraih hasil positif di turnamen internasional. Perkembangan itu mengantarkannya menerima penghargaan pemain paling potensial dari Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) pada 2019.

 

Menjadi Nomor Satu Dunia

 

Perjalanan An Se Young menuju puncak tidak berlangsung dalam semalam. Kerja keras dan konsistensi membawanya menduduki peringkat satu dunia pada Agustus 2023.

 

Pada tahun yang sama, ia merebut gelar juara dunia tunggal putri setelah mengalahkan wakil Spanyol, Carolina Marin, di final Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2023. Kemenangan itu mempertegas posisinya sebagai salah satu pemain paling berpengaruh dalam persaingan tunggal putri.

 

Prestasi An Se Young berlanjut di Asian Games 2022 yang digelar di Hangzhou, China, pada 2023. Ia membawa pulang medali emas tunggal putri, menambah daftar pencapaian penting dalam kariernya.

 

Puncak berikutnya datang di Olimpiade Paris 2024. An Se Young meraih medali emas setelah mengalahkan He Bingjiao dari China pada partai final. Hasil tersebut mengakhiri penantian Korea Selatan untuk kembali meraih emas Olimpiade tunggal putri sejak 1996.

 

Sempat Berselisih dengan Asosiasi

 

Di balik prestasi gemilangnya, perjalanan An Se Young juga diwarnai persoalan di luar lapangan. Setelah Olimpiade Paris 2024, ia menjadi sorotan karena menyampaikan kritik terkait kondisi dan dukungan yang diterimanya dari asosiasi bulu tangkis Korea Selatan.

 

Persoalan tersebut sempat memunculkan perhatian luas terhadap tata kelola dan perlindungan atlet di negaranya. Namun, dinamika itu tidak menghentikan langkah An Se Young untuk terus bersaing di level tertinggi.

 

Ia tetap menjaga performa dan konsistensinya dalam berbagai turnamen internasional. Gelar demi gelar terus dikumpulkan hingga kemenangan di Denmark Open 2026 membawanya melewati rekor jumlah gelar Susy Susanti.

 

Melampaui Rekor Legenda Indonesia

 

Koleksi 47 gelar menjadikan An Se Young melampaui catatan 46 gelar yang dikaitkan dengan Susy Susanti. Bagi dunia bulu tangkis, pencapaian ini menandai pertemuan dua era: Susy yang menjadi simbol kejayaan Indonesia pada masa lalu dan An Se Young yang mendominasi persaingan tunggal putri modern.

 

Meski demikian, membandingkan atlet dari generasi berbeda tidak cukup hanya berdasarkan jumlah trofi. Prestasi di Olimpiade, kejuaraan dunia, konsistensi, serta tingkat persaingan pada setiap era juga menjadi pertimbangan dalam menilai kehebatan seorang pemain.

 

Susy Susanti tetap memiliki tempat istimewa dalam sejarah olahraga Indonesia, terutama berkat medali emas Olimpiade Barcelona 1992 yang menjadi emas Olimpiade pertama bagi Indonesia. Sementara itu, An Se Young terus membangun warisannya melalui dominasi di berbagai turnamen besar.

 

Dengan gelar Olimpiade Paris 2024, gelar juara dunia, emas Asian Games, dan kini 47 gelar sepanjang kariernya, An Se Young semakin mengukuhkan statusnya sebagai salah satu pemain tunggal putri terbaik di dunia.

 

Usianya yang masih 24 tahun juga membuka peluang untuk menambah koleksi trofi dan memperlebar catatan prestasinya. Denmark Open 2026 bukan hanya menjadi panggung kemenangan terbarunya, melainkan juga penanda bahwa perjalanan An Se Young dalam menciptakan sejarah bulu tangkis masih jauh dari selesai.