ESTORIA - Madura United akhirnya berhasil bertahan di Liga 1 musim 2025/2026. Namun, di balik keberhasilan itu tersimpan kisah panjang penuh gejolak, pergantian pelatih, konflik internal, hingga hilangnya kepercayaan di dalam tim.
Laskar Sapeh Kerrab menutup musim di peringkat ke-14 dengan koleksi 35 poin, hanya unggul satu angka dari Persis Solo yang harus terdegradasi dari kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Posisi tersebut menjadi bukti betapa tipis jarak antara keselamatan dan keterpurukan yang dialami Madura United sepanjang musim.
Sejak kompetisi bergulir, tim asal Pulau Garam itu nyaris tak pernah benar-benar keluar dari tekanan. Bersama pelatih Alfredo Vera, Madura United hanya mampu meraih satu kemenangan dalam enam laga awal. Situasi semakin memburuk ketika tongkat kepelatihan beralih ke Carlos Parreira. Di bawah kepemimpinannya, Madura United terjebak dalam rentetan 10 pertandingan tanpa kemenangan.
Ketika ancaman degradasi semakin nyata, manajemen akhirnya menunjuk Rakhmad Basuki yang sebelumnya berstatus asisten pelatih sebagai pelatih interim. Keputusan itu menjadi titik balik yang perlahan mengubah arah perjalanan tim.
Namun menurut Rakhmad, buruknya performa Madura United tidak bisa semata-mata dibebankan kepada pelatih. Ia menilai persoalan yang dihadapi tim jauh lebih kompleks, mulai dari proses perekrutan pemain hingga ketidaksesuaian filosofi permainan yang diterapkan.