estoria.id - Film animasi independen China, Niu Lai atau The Arrival of the Ox, tiba-tiba mencuri perhatian setelah mengalami lonjakan penonton di tengah derasnya kritik terhadap kualitas film tersebut.

 

Ironisnya, animasi dengan tampilan visual sederhana dan pengerjaan terbatas itu justru mampu mencuri panggung di tengah persaingan dengan film-film blockbuster Hollywood, termasuk Spider-Man: Brand New Day dan The Odyssey karya sutradara Christopher Nolan.

 

Pada awal penayangannya, Niu Lai jauh dari kata sukses. Film tersebut menjadi sasaran cibiran warganet karena kualitas animasinya dianggap kasar, kaku, bahkan terlihat patah-patah. Jalan ceritanya pun dinilai canggung dan sulit dipahami.

 

Niu Lai bercerita tentang seekor anak sapi yang bercita-cita menjadi seorang pejuang. Dalam petualangannya, ia ditemani seekor burung skylark. Di balik kisah sederhana itu, film ini sebenarnya membawa pesan tentang keberanian dan pengorbanan.

 

Namun, pesan tersebut justru dianggap tidak tersampaikan dengan baik oleh sebagian penonton. Beijing News, sebagaimana dikutip Channel News Asia, bahkan menyoroti gerakan animasi yang terlihat tidak mulus serta pengisi suara yang terdengar kaku.

 

Kritik tersebut sempat membuat film ini nyaris tak diperhitungkan. Dalam 10 hari pertama penayangannya di China, Niu Lai hanya mengumpulkan sekitar 7.700 yuan, atau sekitar Rp20,4 juta.

 

Angka itu bahkan menempatkannya sebagai salah satu film animasi dengan pendapatan terendah tahun ini.

 

Situasi kemudian berubah drastis. Alih-alih membuat film tersebut ditinggalkan, cibiran yang beredar di media sosial justru memicu rasa penasaran publik.

 

Niu Lai berkembang menjadi fenomena meme. Warganet yang sebelumnya mengejek kualitas film mulai mendatangi bioskop untuk menyaksikannya secara langsung.

Hasilnya mengejutkan.

 

Data platform tiket Maoyan menunjukkan Niu Lai mampu meraup sekitar 5,6 juta yuan, setara Rp14,84 miliar, hanya dalam satu hari pada Minggu (16/8/2026).

 

Maoyan bahkan memproyeksikan film tersebut berpotensi mengumpulkan sekitar 18,4 juta yuan, atau setara Rp48,76 miliar, selama satu bulan masa penayangan.

 

Pencapaian tersebut menjadi semakin menarik karena Niu Lai harus berhadapan dengan dua film Hollywood berbiaya besar yang tengah menjadi perhatian pasar China, yakni Spider-Man: Brand New Day dan The Odyssey.

 

Di balik fenomena tersebut, ada satu hal yang membuat Niu Lai semakin unik: film ini dibuat secara manual oleh manusia di tengah maraknya penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam industri animasi.

 

Niu Lai disebut hanya dikerjakan oleh dua orang. Xin Yumeng bertindak sebagai sutradara, sementara Sun Lifang menangani penulisan naskah sekaligus mengisi seluruh suara karakter.

 

Keterbatasan produksi yang awalnya menjadi bahan ejekan justru berubah menjadi daya tarik tersendiri. Di tengah industri yang semakin mengandalkan teknologi untuk menghasilkan konten secara cepat dan massal, Niu Lai menawarkan sesuatu yang berbeda: karya sederhana dengan sentuhan manusia yang sangat kuat.

 

Film yang semula hampir tenggelam karena hujan kritik itu akhirnya justru mendapatkan promosi gratis dari cibiran warganet.

 

Dari film yang dirujak menjadi tontonan yang diburu, Niu Lai membuktikan bahwa kegagalan di awal tidak selalu menjadi akhir cerita.