Kolom: Anonim
KOLOM, ESTORIA — Ada orang yang begitu rajin mengganti wajah, sampai lupa wajah aslinya pernah ada.
Di depan, ia manis. Di belakang, ia sibuk menenun cerita. Tentu saja, bukan untuk kebaikan, melainkan untuk memastikan semua benang tetap berujung padanya.
Ia menyebut dirinya penyampai. Padahal, lebih tepat sebut ia penyaring, ala wazni memotong, menambah, menggeser makna, lalu menyerahkannya ke pihak lain dengan ekspresi polos.
Seolah tak ikut apa-apa.
Konflik pun mekar. Ia berdiri di tengah, pura-pura menjadi peneduh, sambil menikmati panasnya aroma keadaan yang ia aduk sedemikian rupa.
Inilah seni bermuka dua yang merasa cerdas.
Berpikir bahwa semua orang terlalu bodoh untuk menyadari pola. Merasa aman karena selalu bermain di balik tirai, tidak pernah muncul sebagai pelaku, hanya sebagai “korban keadaan” atau “penolong yang kebetulan lewat”.
Ia pandai memuji berlebihan, karena pujian adalah umpan paling murah. Ia gemar bergosip, karena reputasi orang lain adalah mata uang yang bisa ditukar pengaruh. Ia menghindari tanggung jawab, karena baginya, kebenaran hanyalah versi yang paling menguntungkan.
Yang sering ia lupa adalah, bahwa topeng yang dipakai terus-menerus akan retak oleh kebiasaannya sendiri. Orang mungkin diam, bukan karena tidak tahu, melainkan karena SEDANG MENCATAT.
Ya, sedang mencatat. Dan saat satu per satu memilih berbicara langsung, saat triangulasi diputus, saat cerita disandingkan dengan cerita, ia akan terkejut.
Bahwa ternyata, ia bukan pusat kendali, bahwa dirinya hanyalah simpul rapuh dalam jaringan kebohongannya sendiri.
Kolom ini bukan tuduhan. Hanya pengingat, bahwa kelicikan mungkin membuatmu merasa unggul hari ini, namun konsistensi, selalu memenangkan waktu.
Dan, orang yang hidup dari adu domba, pada akhirnya akan sendirian. Karena tak ada lagi yang percaya pada “pesan titipan”-nya.
Jika tulisan ini terasa menyinggung,
barangkali bukan karena nadanya,
melainkan karena cerminnya terlalu jujur.
***






