Nasib Puisi dan Peluang Bahasa Daerah

Senin, 12 Januari 2026 - 01:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar Ilustrasi Nasib Puisi dan Peluang Bahasa Daerah

i

Gambar Ilustrasi Nasib Puisi dan Peluang Bahasa Daerah

ESTORIADoeloe, biarlah kata itu kita eja dengan romantisme ejaan lama, betapa girangnya teman-teman penyair jika puisinya nongol di majalah atau koran cetak akhir pekan.

Sekali muat, kebayang si penulis, slot gacor kayak berasa jadi nabi sehari. Honor di kepala. Utang di warung langganan, LUNAS! Begitu yang saya rasakan saat masih nyantri di Ponpes Annuqayah.

Kalau puisi itu nyata muat di Horison, Annida, Femina, atau koran cetak seperti Kompas dan Jawa Pos, senangnya bukan kepalang. Apalagi, jika tembus rubrik sastra Tempo, sudah pasti, puisi itu bakal difoto, dipajang, dan diunggah ke medsos.

Dengan kebanggaan yang sah dan manusiawi, maka mengalirlah sanjungan dari kawan-kawan penyair, calon penyair, atau para penikmat puisi di kolom komentar FB dan IG.

Ya, kira-kira sebelum era Jokowi, situs slot gacor puisi masih jadi anak kandung media cetak. Ia diasuh oleh redaktur sastra yang cerewet, ditimbang dengan ukuran mutu, lalu dipublikasikan dengan penuh wibawa.

Para penyair kala itu bisa menunggu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, hanya untuk satu kali muat. Bahasa Indonesia baku menjadi syarat tak tertulis. Bahasa daerah dianggap terlalu lokal, terlalu sempit atau, “tidak menjual”.

Hari ini, entah, apakah hanya saya yang ngerasa, puisi seperti sudah berada di persimpangan jalan. Antologi puisi, siapa yang mau beli? Kecuali mungkin, teman sendiri.

Di jaman yang kita kenal dengan Gen-Z kini, jangankan proses kreatif, siapa pula yang peduli dengan estetika bahasa, atau sekadar keberlangsungan makna di tengah dunia yang bergerak cepat.

Boleh dibilang, puisi kini seperti kehilangan rumah. Ruang redaksi yang dulu ketat kini mengendur. Di sisi lain, ruang medsos tengah membuka pintu selebar-lebarnya.

Tapi mungkin, justru di sinilah peluang baru lahir: bahasa daerah, yang lama terpinggirkan, menemukan momentumnya.

Entah kenapa kini lanskap itu runtuh. Media cetak menyusut. Rubrik sastra menghilang satu per satu, dan puisi, mulai bermigrasi ke ruang-ruang digital.

Ironisnya, di ruang yang dianggap serba instan itulah, bahasa daerah mulai bernapas kembali. Tak lagi perlu izin redaktur pusat. Tak perlu legitimasi Jakarta. Cukup satu akun media sosial, satu kanal YouTube, atau satu laman media daring, puisi berbahasa Madura, Jawa, Sunda, Bugis, Bali, dan bahasa-bahasa lain bisa hidup dan bertumbuh.

Bahasa daerah menemukan momentumnya karena ia menawarkan sesuatu yang tak bisa disediakan oleh AI: konteks kultural yang hidup.

AI memang bisa meniru kosakata, tapi ia gagap membaca rasa. Ia tak tumbuh di dapur-dapur desa, tak hafal peribahasa lisan, tak paham lapis-lapis makna dalam satu kata daerah yang berubah arti tergantung nada dan situasi.

Puisi berbahasa daerah seperti menjadi sikap kebudayaan. Ia menolak diseragamkan. Ia melawan logika algoritma yang menyukai yang umum, yang netral, dan yang mudah dicerna.

Dalam bahasa daerah, puisi kembali pada akarnya: lisan, komunal, dan berjarak dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Namun demikian, peluang itu tak datang tanpa risiko. Ketika semua orang bisa menulis dan mempublikasikan, mutu menjadi taruhan.

Puisi bahasa daerah yang kita tulis, bisa saja terjebak pada nostalgia dangkal jika sekadar meromantisasi kampung halaman tanpa kedalaman refleksi. Apalagi jika hanya berupa komoditas identitas: ramai, bangga, tapi miskin eksplorasi.

Di sinilah peran penyair menjadi krusial. Bahasa daerah adalah museum kata-kata tua sekaligus medan eksperimentasi. Ia harus berani bicara tentang hari ini. Tentang kemiskinan, migrasi, kekerasan, cinta yang retak, hingga kecemasan hidup modern. Semua itu bisa disampaikan dengan logat lokal dan rasa setempat.

Nasib puisi ke depan mungkin tak lagi ditentukan oleh majalah sastra atau koran nasional, melainkan oleh keberanian penyair menggali bahasa ibunya sendiri.

Karena itu, bahasa daerah memberi peluang bagi puisi untuk kembali jujur. Ia mesti lahir dari pengalaman yang paling dekat.

Jika puisi ingin bertahan di era AI, ia harus kembali menjadi sesuatu yang tak bisa ditiru mesin. Ingatan kolektif, luka kultural, dan suara manusia yang berakar. Di situlah bahasa daerah bakal menjadi rumah terakhir bagi puisi. ***

Facebook Comments Box

Penulis : Soemarda Paranggana

Editor : Redaksi

Follow WhatsApp Channel estoria.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Malatè Artspace Luncurkan Buku Balai Desa dan Hantu-Hantu Nippon, Hadirkan Penyair M. Faizi
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 12 Januari 2026 - 01:13 WIB

Nasib Puisi dan Peluang Bahasa Daerah

Jumat, 31 Oktober 2025 - 16:08 WIB

Malatè Artspace Luncurkan Buku Balai Desa dan Hantu-Hantu Nippon, Hadirkan Penyair M. Faizi

Berita Terbaru

Gambar Ilustrasi Nasib Puisi dan Peluang Bahasa Daerah

Literasi & Sastra

Nasib Puisi dan Peluang Bahasa Daerah

Senin, 12 Jan 2026 - 01:13 WIB

Gambar Ilustrasi Perilaku Main Belakang. Psikologi tentang orang berwajah ganda yang suka mengadu domba demi menjadi pusat perhatian dan keuntungan transaksi (doc. estoria)

Kolom

Main Belakang

Sabtu, 20 Des 2025 - 07:48 WIB