estoria.id – Manajemen Rumah Sakit BHC Sumenep, Jawa Timur, belum memberikan penjelasan terperinci terkait polemik pelayanan pasien yang viral di media sosial. Di tengah sorotan publik terhadap pengakuan seorang perawat yang mematikan infus saat pasien mengalami muntah, manajemen masih berdalih proses investigasi internal sedang berlangsung.
Manager Humas dan Marketing RS BHC Sumenep, Sandra Rahestri, mengatakan pihaknya belum dapat menyampaikan penjelasan mengenai persoalan tersebut karena penelusuran internal masih berjalan.
“Terkait berita yang sedang beredar, kami dari manajemen belum bisa menyampaikan penjelasan terkait hal ini. Agenda kami pagi ini masih dilakukan investigasi secara internal,” kata Sandra saat dikonfirmasi sejumlah awak media, Rabu (14/10/2026) siang.
Lebih lanjut, pihaknya belum memaparkan hasil pemeriksaan internal ataupun memastikan kapan investigasi akan rampung.
Sandra menyebut manajemen akan melakukan pendekatan dan komunikasi dengan keluarga yang berduka setelah proses penelusuran selesai.
“Insyaallah bila semua sudah kami investigasi, kami akan melakukan pendekatan dan komunikasi dengan pihak keluarga yang berduka,” ujarnya.
Meski demikian, belum ada kepastian mengenai waktu penyampaian hasil investigasi kepada keluarga maupun publik.
Pernyataan tersebut belum menjawab sejumlah pertanyaan yang berkembang setelah video klarifikasi seorang perawat beredar luas di media sosial. Publik masih menunggu penjelasan mengenai kronologi kejadian, alasan infus dimatikan, hingga tindakan petugas ketika pasien disebut mengalami muntah.
Dalam video berdurasi sekitar 1 menit 30 detik yang diunggah akun TikTok @patah.tapi.kuat pada Selasa (13/10/2026), seorang perawat perempuan tampak dimintai keterangan oleh seorang pria terkait penanganan pasien.
Perawat itu mengaku datang untuk memberikan obat sesuai jadwal sekitar pukul 05.00. Ia menjelaskan bahwa obat diberikan secara bertahap, dimulai dari obat untuk mengatasi mual dan muntah, kemudian obat antinyeri.
Persoalan mencuat ketika pembicaraan mengarah pada kondisi pasien yang disebut mengalami muntah dan infus mengalami kemacetan.
“Muntahnya diselesaikan dulu, Mas. Untuk infusnya saya matikan dulu, nanti saya ke sini lagi,” ujar perawat tersebut dalam video.
Pernyataan itu langsung dipersoalkan oleh pria yang meminta klarifikasi. Ia mempertanyakan keputusan mematikan infus sekaligus meninggalkan pasien ketika kondisinya sedang mengalami muntah.
“Mbak, dalam keadaan pasien muntah, Mbak matikan infus, Mbak tinggalkan!” ucap pria tersebut dengan nada tinggi.
Namun, rekaman yang beredar terpotong sebelum seluruh proses klarifikasi selesai. Karena itu, video tersebut belum cukup untuk memastikan keseluruhan kronologi maupun menyimpulkan ada atau tidaknya kelalaian dalam penanganan pasien.
Kondisi ini membuat persoalan yang menjadi perhatian masyarakat masih menyisakan tanda tanya. Penjelasan mengenai tindakan petugas, dasar pengambilan keputusan, serta kesesuaiannya dengan prosedur pelayanan rumah sakit belum diungkap secara terperinci.
Hingga berita ini ditulis, manajemen RS BHC Sumenep belum mengumumkan hasil investigasi maupun memberikan penjelasan lengkap mengenai keluhan pelayanan tersebut.