estoria.id – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara, menjadi sorotan setelah 63 siswa dari sejumlah sekolah dilaporkan mengalami gangguan kesehatan. Mereka mengeluhkan sakit perut dan mual setelah menyantap makanan yang dibagikan pada Selasa (13/10/2026).
Kondisi para siswa dilaporkan memburuk pada Rabu (14/10/2026), hingga sebagian dari mereka harus mendapatkan penanganan medis di Puskesmas Angata. Dugaan keracunan makanan pun mencuat, meski penyebab pasti kejadian tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan.
Puluhan siswa yang terdampak terdiri atas 27 siswa dari SD Negeri 1 Angata, SD Negeri 2 Angata, dan SD Negeri 4 Angata, serta 36 siswa SMAN 10 Konawe Selatan.
Kepala SMAN 10 Konawe Selatan, Liy, membenarkan adanya sejumlah siswa yang mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi MBG. Gejala awal disebut muncul sehari sebelum para siswa mendatangi fasilitas kesehatan.
“Informasinya, setelah menyantap MBG kemarin para siswa mulai merasakan sakit perut dan mual, puncaknya hari ini,” ujar Liy, Rabu (14/10/2026).
Situasi di Puskesmas Angata dilaporkan semakin padat seiring bertambahnya siswa yang membutuhkan pertolongan. Tidak hanya siswa SMA, sejumlah pelajar sekolah dasar juga mengalami keluhan serupa.
“Bukan hanya anak SMA, anak SD juga banyak yang masuk. Sekarang sudah full ini Puskesmas,” katanya.
Rekaman video yang beredar turut memperlihatkan suasana penanganan para siswa. Beberapa di antaranya tampak kesakitan, sementara siswa lainnya dilaporkan pingsan dan menangis histeris. Meski demikian, kondisi terkini seluruh siswa belum diketahui secara pasti.
Polisi Turun Tangan, Asal Makanan Ditelusuri
Kasus tersebut mendapat perhatian kepolisian. Kapolres Konawe Selatan, AKBP Daeng Riandika Mahardani, mengatakan personel telah diterjunkan untuk menangani dan memeriksa kejadian tersebut.
Ia membenarkan bahwa 27 siswa SD dan 36 siswa SMA telah mendapatkan penanganan di Puskesmas Angata.
“Sudah ditangani anggota, ada 27 orang siswa SD dan 36 orang siswa SMA di Puskesmas,” kata Daeng Riandika.
Berdasarkan keterangan kepolisian, makanan yang dikonsumsi para siswa berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Angata, Konawe Selatan.
Namun, asal makanan tersebut belum serta-merta membuktikan bahwa menu MBG menjadi penyebab gangguan kesehatan yang dialami para siswa. Polisi masih melakukan penelusuran untuk memastikan rangkaian peristiwa dan faktor yang memicu munculnya keluhan.
“Masih diperiksa anggota, karena sudah sehari kejadiannya,” ujarnya.
Penyebab Belum Terungkap, Pemeriksaan Lanjutan Diperlukan
Hingga Rabu siang, penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami 63 siswa tersebut belum terungkap. Belum ada hasil pemeriksaan yang memastikan adanya hubungan langsung antara makanan dari program MBG dan keluhan yang dialami para pelajar.
Penelusuran lebih lanjut diperlukan, termasuk pemeriksaan terhadap makanan yang dibagikan, proses pengolahan, penyimpanan, hingga distribusinya kepada para siswa. Hasil pemeriksaan medis juga menjadi bagian penting untuk mengetahui penyebab munculnya gejala secara bersamaan.
Keterangan resmi dari Dinas Kesehatan Konawe Selatan dan pihak SPPG Angata terkait insiden tersebut belum diperoleh berdasarkan informasi yang tersedia.