Fajar mengatakan, penguatan literasi dan inklusi keuangan syariah juga menjadi bagian penting dari upaya tersebut. Melalui pemahaman yang lebih baik mengenai layanan keuangan sesuai prinsip syariah, masyarakat pesantren diharapkan mampu memanfaatkan akses keuangan untuk mengembangkan potensi usaha.
Menurutnya, pesantren memiliki peluang untuk menjadi pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat. Dengan dukungan pengetahuan, keterampilan, dan akses pembiayaan yang memadai, santri dapat mengembangkan usaha sekaligus menciptakan peluang ekonomi bagi lingkungan sekitarnya.
“Kami berharap santri tidak hanya menjadi penjaga nilai-nilai keislaman, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi umat dan kemajuan bangsa,” katanya.
Fajar menambahkan, kemandirian ekonomi merupakan salah satu aspek penting dalam membangun generasi santri yang berdaya saing. Karena itu, nilai-nilai yang dipelajari di pesantren perlu berjalan beriringan dengan penguasaan keterampilan dan kemampuan berwirausaha.
Ia berharap peringatan Hari Santri Nasional 2026 dapat menginspirasi lahirnya generasi yang tidak hanya kuat dalam akhlak dan pengetahuan agama, tetapi juga mampu menghadirkan solusi bagi persoalan sosial dan ekonomi masyarakat.