estoria.idDunia hiburan Indonesia kembali berduka. Aktor dan seniman senior Diding Boneng meninggal dunia pada Senin (03/08/2026) dalam usia 76 tahun. Kepergian pria bernama asli Zainal Abidin itu meninggalkan duka mendalam, tak hanya bagi insan perfilman, tetapi juga bagi banyak anak didiknya di dunia seni.

 

Kabar wafatnya Diding Boneng disampaikan oleh Sanggar Perkasa, tempat almarhum selama ini mengabdikan diri sebagai pengajar seni untuk anak-anak. Dalam unggahan duka tersebut, sanggar mengenang sosok Diding sebagai seniman yang tak pernah lelah membagikan ilmu, semangat, dan inspirasi kepada generasi muda.

 

Lahir pada 3 Maret 1950, Diding memulai perjalanan seninya melalui panggung teater pada 1973. Berkat kemampuan aktingnya, ia beberapa kali meraih penghargaan di festival teater remaja sebelum akhirnya menembus dunia layar lebar lewat film Tiga Dara Mencari Cinta pada 1980.

 

Namanya melejit setelah memerankan tokoh Boneng dalam serial legendaris Rumah Masa Depan yang tayang pada 1983 hingga 1986. Sejak saat itu, nama karakter tersebut begitu melekat hingga menjadi identitas yang dikenang masyarakat. Popularitasnya semakin meningkat ketika membintangi sejumlah film Warkop DKI, dengan peran khas sebagai hansip maupun pelatih militer yang mengundang tawa penonton.

 

Meski telah berkarier selama puluhan tahun, Diding tetap aktif berkarya. Dalam beberapa tahun terakhir, ia masih tampil di sejumlah film, di antaranya KKN di Desa Penari (2022), Badarawuhi di Desa Penari (2024), dan The Torture: Beranak dalam Kubur (2024). Sepanjang kariernya, ia tercatat membintangi sedikitnya 35 film dan sembilan sinetron, selain aktif di berbagai pertunjukan teater.

 

Di balik kiprahnya sebagai aktor, Diding juga dikenal sebagai sosok pendidik yang mencintai dunia seni. Hingga akhir hayatnya, ia tetap meluangkan waktu mengajar anak-anak di Sanggar Perkasa, mewariskan pengalaman dan kecintaannya terhadap seni kepada generasi penerus.

 

Awal 2026, kondisi kesehatannya sempat menurun akibat penyakit asma yang telah dideritanya selama beberapa tahun. Ia bahkan menjalani perawatan intensif di rumah sakit setelah mengalami gangguan pernapasan. Diding pernah mengungkapkan bahwa penyakit tersebut diduga mulai muncul usai menjalani proses syuting film horor yang berlangsung selama berbulan-bulan di hutan dengan dominasi adegan malam dan penggunaan efek asap buatan.

 

Dalam pesan belasungkawa, Sanggar Perkasa menyampaikan penghormatan terakhir kepada sosok yang mereka panggil Opa Diding. Mereka menyebut dedikasi, ilmu, dan semangat yang diwariskan almarhum akan terus hidup melalui karya serta perjalanan anak-anak didiknya.

 

Kepergian Diding Boneng menutup perjalanan panjang seorang seniman yang telah menghibur masyarakat Indonesia selama lebih dari empat dekade. Namun, karya, keteladanan, dan pengabdiannya terhadap dunia seni akan tetap dikenang lintas generasi.