ESTORIA – Penyair muda asal Sumenep, Madura, A’yat Khalili, kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Ia meraih Juara Pertama Lomba Cipta Puisi Nasional yang digelar oleh Garuda TV dengan tema “Merajut Kebangsaan: Solidaritas untuk Indonesia.”
Kompetisi terbuka tingkat umum ini ditutup pada 8 Februari 2026 dengan total 2.739 karya dari berbagai daerah di Indonesia.
Puisi A’yat Khalili berjudul “Tanah Ini Tanah Bersama” dinilai paling kuat merefleksikan semangat kebangsaan, solidaritas, dan kepedulian pascabencana di wilayah Sumatera.
Malam puncak penghargaan digelar secara eksklusif pada Rabu, 11 Februari 2026 pukul 19.00 WIB di Yudistira Ballroom Patra Jasa Office Tower, Jakarta.
Acara tersebut disiarkan langsung melalui Garuda TV dan kanal YouTube resmi mereka, serta dihadiri sekitar 550 undangan dari berbagai latar belakang tokoh lintas agama—Islam, Protestan, Katolik, Buddha, Konghucu, dan Kristen—sebagai simbol kebhinekaan Indonesia.
Direktur Utama Garuda TV, Fahmi Muhammad Anwari, mengaku tersentuh dengan puisi yang dibacakan A’yat Khalili.
“Karena di era yang sekarang sudah digitalisasi segala macam, menghasilkan karya tersebut itu menurut saya luar biasa, dibangun atas tema kebangsaan terhadap toleransi, bencana dan segala macam, menyentuh sekali, terima kasih atas karyanya, dan selamat,” ujarnya dalam sambutan malam puncak.
Selain A’yat Khalili sebagai Juara Pertama, panitia menetapkan Tifa Fitriana sebagai Juara Kedua melalui puisi “Negeri yang Belajar Bangkit” dan Novi Cahyani sebagai Juara Ketiga lewat karya “Negeri Ini Menangis di Banyak Nama.”
Kepada Jurnalis Estoria, A’yat Khalili menyebut ajang ini sebagai ruang refleksi kebangsaan pascabencana yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera, seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
“Acara ini, seyogianya adalah refleksi keindonesiaan dan kebangsaan pasca Indonesia mengalami bencana di Sumatera. Garuda TV memberi peluang bagi anak-anak muda untuk berkarya dan merefleksikan keadaan Indonesia,” kata A’yat, Jumat (12/2) sore.
Peluang eksplorasi pemikiran dari generasi muda berbagai daerah menurutnya sangat penting, mengingat Indonesia terdiri dari beragam suku, bahasa, budaya, dan agama.
“Dari refleksi itulah kesadaran generasi selanjutnya akan tumbuh,” simpul penyair kelahiran Longos, Kecamatan Gapura, Kabupaten Sumenep ini.
Profil Singkat A’yat Khalili

A’yat Khalili dikenal sebagai penulis asal Sumenep, Madura, dengan karya berupa esai, puisi, cerita pendek, dan catatan perjalanan yang tersebar di berbagai media nasional seperti Kompas dan Jawa Pos. Ia telah meraih sejumlah penghargaan sastra tingkat nasional hingga Asia Tenggara.
Pada 2019, ia menerima Penghargaan Terbaik Piala HB Jassin dari Bengkel Deklamasi Jakarta bekerja sama dengan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin dan Pemda DKI Jakarta. Ia juga mendapat apresiasi dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta serta Yayasan Hari Puisi 2019.
Selain itu, A’yat pernah menghadiri Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia (MUNSI) II tahun 2017 di Jakarta, Pertemuan Penyair Nusantara ke-VI di Jambi (2012) dan ke-XI di Kudus (2019), serta menjadi pembicara di Borobudur Writers & Cultural Festival 2019.
Prestasi ini sekaligus mempertegas posisi A’yat Khalili sebagai representasi penyair muda dari ujung timur Madura yang mampu bersaing dan bersuara di panggung nasional, membawa identitas Sumenep dalam narasi kebangsaan Indonesia.
***



