estoria.id - Halimah Yacob mencatat sejarah baru dalam perjalanan politik Singapura. Perempuan kelahiran Queen Street itu akan dilantik sebagai Presiden Singapura pada Rabu, 13 September 2017.
Namanya menjadi satu-satunya kandidat yang dinyatakan memenuhi seluruh persyaratan oleh Komite Pemilu Presiden. Dari lima nama yang sempat muncul, hanya Halimah yang memperoleh Sertifikat Kesesuaian dan Sertifikat Masyarakat.
Halimah pun otomatis menjadi Presiden ke-8 Singapura sekaligus perempuan pertama yang menduduki jabatan kepala negara tersebut.
Kemenangannya juga memiliki makna khusus dari sisi representasi etnis. Perubahan aturan pemilihan presiden yang disahkan parlemen pada November 2016 menetapkan mekanisme pemilihan berdasarkan kelompok etnis yang belum memperoleh kesempatan menduduki kursi kepresidenan selama lima masa jabatan berturut-turut.
Pada periode tersebut, giliran masyarakat Melayu mendapatkan kesempatan.
Halimah menjadi sosok yang mengisi ruang tersebut. Ia tercatat sebagai orang Melayu kedua yang menjadi Presiden Singapura setelah Yusof Ishak, presiden pertama Singapura yang menjabat pada 1965–1970.
Namun, sebelum sampai ke Istana Kepresidenan, perjalanan hidup Halimah jauh dari kemewahan politik.
Lahir pada 23 Agustus 1954 sebagai anak bungsu dari lima bersaudara, Halimah tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayahnya meninggal ketika ia masih kecil. Sang ibu kemudian menjadi tulang punggung keluarga dengan berjualan nasi Padang secara keliling sebelum akhirnya membuka warung makan.
Halimah ikut membantu ibunya menjalankan usaha tersebut.
Ia mencuci peralatan makan, membersihkan meja hingga melayani pelanggan. Kehidupan masa kecil itu kemudian menjadi bagian penting dari perjalanan hidup perempuan yang kelak memimpin negara tersebut.
Pada akhir 1960-an, Halimah bersekolah di Singapore Chinese Girls’ School. Ia menjadi salah satu dari sedikit siswa Melayu di sekolah tersebut.
Pendidikannya kemudian berlanjut di Tanjong Katong Girls’ School hingga masuk Universitas Singapura, tempat ia meraih gelar sarjana hukum.
Setelah menyelesaikan pendidikan, Halimah memasuki dunia ketenagakerjaan. Pada 1978, ia bergabung dengan National Trades Union Congress (NTUC) sebagai staf di bidang hukum.
Kariernya di organisasi pekerja itu berlangsung lebih dari tiga dekade. Perlahan, posisinya terus meningkat hingga akhirnya dipercaya menjadi wakil sekretaris jenderal.
Di tengah perjalanan kariernya, Halimah juga membangun keluarga. Pada 1980, ia menikah dengan Mohamed Abdullah Alhabshee, pria yang telah dikenalnya sejak masa kuliah dan kemudian menjadi pengusaha.
Keduanya dikaruniai lima anak.
Langkah Halimah ke dunia politik dimulai pada 2001. Ia terjun ke parlemen setelah didorong Perdana Menteri Singapura saat itu, Goh Chok Tong.
Sejak saat itu, ia berhasil memenangkan empat pemilihan parlemen.
Karier politiknya sekaligus membuka sejarah baru. Halimah menjadi salah satu tokoh perempuan Melayu paling menonjol dalam politik Singapura setelah kemerdekaan.
Puncak kariernya di parlemen terjadi pada 2013. Ia dipercaya menjadi Ketua Parlemen Singapura dan tercatat sebagai perempuan pertama yang menduduki posisi tersebut.
Kini, perjalanan panjang itu membawanya ke kursi kepresidenan.
Selain Halimah, sejumlah nama sebelumnya juga masuk dalam proses pencalonan, di antaranya CEO Second Chance Properties Mohamed Salleh Marican dan Chairman Bourbon Offshore Asia Farid Khan Kaim Khan. Namun, keduanya tidak memperoleh sertifikasi yang diperlukan untuk melanjutkan pencalonan.
Halimah akhirnya melaju tanpa lawan dalam pemilihan presiden 2017.
Kisah hidupnya pun menjadi sorotan bukan semata karena ia merupakan perempuan pertama yang menjadi Presiden Singapura, tetapi juga karena perjalanan dari kehidupan sederhana—membantu ibunya berjualan makanan—hingga mencapai posisi tertinggi sebagai kepala negara.
Dari warung makan sederhana menuju Istana Kepresidenan, perjalanan Halimah Yacob menjadi salah satu kisah politik paling bersejarah di Singapura.