estoria.id - Polemik buku Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam belum mereda. Sorotan mengemuka setelah sejumlah nama ulama besar tercantum dalam buku tersebut, sementara mereka mengaku tidak pernah diberi tahu mengenai penggunaannya sebagai bagian dari sebuah buku.

 

Salah satu yang angkat bicara adalah Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, KH Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar atau Gus Kautsar.

 

Dalam video klarifikasi yang beredar di YouTube, Gus Kautsar menjelaskan bahwa dirinya memang pernah menerima rombongan tamu di kediamannya di Ploso menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

 

Pertemuan tersebut, kata dia, berlangsung dalam suasana santai. Dalam perbincangan itu, salah seorang tamu menyampaikan bahwa dirinya tengah mengumpulkan bahan tulisan mengenai keindonesiaan, kepesantrenan, keislaman, serta sosok presiden terpilih.

 

Gus Kautsar mengaku mengetahui bahwa percakapan tersebut direkam dan sebagian pembicaraan kemudian ditulis.

 

"Saya tahu kalau itu direkam, saya tahu direkam dan kemudian ada beberapa yang ditulis, begitu saya tahu," ujar Gus Kautsar dalam video klarifikasinya, dikutip Kamis (10/9/2026).

 

Tak Pernah Diberi Tahu Akan Jadi Buku

Menurut Gus Kautsar, pertanyaan yang diajukan kepadanya saat itu berkaitan dengan sejumlah isu, mulai dari pandangan santri mengenai kemerdekaan dan keberagaman hingga program makan siang gratis yang menjadi salah satu janji kampanye.

 

Ia menjawab pertanyaan tersebut dalam perspektif akademis dan keislaman.

Salah satu rujukan yang disampaikannya adalah riwayat Abdullah bin Salam mengenai khotbah pertama Rasulullah SAW ketika tiba di Madinah. Dalam konteks tersebut, Gus Kautsar menyinggung pentingnya memberi makan atau ath'imuth tha'am.

 

Namun, ia menegaskan bahwa sejak awal tidak pernah diberi informasi bahwa wawancara tersebut nantinya akan dihimpun menjadi sebuah buku berjudul Islam ala Prabowo.

 

"Kami tidak pernah tahu bahwa ini kemudian akan menjadi satu buku," ujarnya.

 

Bagi Gus Kautsar, persoalan utamanya bukan sekadar soal setuju atau tidak setuju namanya dicantumkan.

Ia justru mempertanyakan transparansi proses penerbitan buku tersebut. Menurutnya, jika hasil wawancara memang hendak dimasukkan ke dalam buku, semestinya para narasumber diberi tahu terlebih dahulu.

 

"Sebetulnya bukan masalah keberatan atau tidak, satu hanya masalah transparansi. Kemudian kalau memang kami dicantumkan di sana, kenapa sebelum diterbitkan kami tidak diberitahu, kami tidak dikasih tahu," tegasnya.

 

Soroti Judul Islam Ala Prabowo

 

Gus Kautsar juga memberikan catatan terhadap penggunaan judul Islam ala Prabowo.

 

Menurutnya, istilah semacam itu tidak lazim dalam tradisi pesantren ketika membicarakan Islam dan para kiai.

Ia bahkan memberikan sejumlah contoh nama ulama yang menurutnya tidak biasa disebut dengan konstruksi "Islam ala".

 

"Kapasitas guru-guru kami saja kami tidak punya tuh Islam ala Mbah Kiai Jazuli misalnya, gak punya tuh. Islam ala Mbah Yehuda gak ada tuh, atau mungkin yang kamu kenal misalnya Islam ala Mbah Maimun, enggak ada tuh," tuturnya.

 

Menurut Gus Kautsar, tradisi pesantren tidak terbiasa menjadikan Islam sebagai sesuatu yang dilekatkan pada pandangan personal seorang tokoh.

 

"Karena kami tidak biasa bahwa ngomongkan Islam kemudian ngomongkan menurut saya, gak ada tuh," katanya.

 

Tegaskan Tak Terima Royalti

Gus Kautsar juga membantah anggapan bahwa dirinya terlibat dalam proyek penerbitan atau memperoleh keuntungan dari buku tersebut.

 

Ia memastikan tidak menerima bayaran maupun royalti dari penerbitan buku Islam ala Prabowo.

Baca Juga:Main Belakang

 

"Saya pastikan tidak ada satu pun rupiah yang kamu makan malam ini dari royalti buku tersebut, gak ada tuh," ujarnya.

 

TGB Juga Bantah Terlibat

 

Klarifikasi serupa sebelumnya disampaikan mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Tuan Guru Bajang (TGB) KH Muhammad Zainul Majdi.

Melalui akun Instagram pribadinya, TGB menyatakan tidak pernah mengirimkan tulisan untuk buku tersebut.

 

"Saya tidak pernah kirim tulisan," kata TGB dalam unggahannya pada Senin (7/9/2026).

 

Nama TGB tercantum dalam buku Islam ala Prabowo pada halaman 241 sebagai penulis ulasan mengenai visi keislaman Prabowo.

 

Selain TGB dan Gus Kautsar, nama mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj juga disebut dalam polemik tersebut.

 

Disebut Bukan Sekadar Kesalahan Redaksional

 

Polemik tersebut kemudian mendapat sorotan politikus PDI Perjuangan (PDIP) Mohamad Guntur Romli.

 

Melalui akun Instagram pribadinya, Gun Romli menilai pencantuman nama tiga ulama besar tanpa izin dan konfirmasi tidak bisa dipandang hanya sebagai kekeliruan administratif.

 

Ia menyebut persoalan tersebut sebagai bentuk "kejahatan intelektual".

Gun Romli juga mempertanyakan konstruksi judul Islam ala Prabowo

 

Menurut dia, penggunaan judul tersebut berpotensi membangun framing tertentu mengenai hubungan Prabowo Subianto dengan corak keislaman.

 

Hingga kini, polemik masih menyisakan pertanyaan mengenai proses penyusunan, konfirmasi terhadap para tokoh yang namanya tercantum, serta tanggung jawab pihak penyusun dan penerbit.

 

Buku Diluncurkan pada 2025

 

Buku Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam memiliki ketebalan 368 halaman dan diterbitkan Atmosphere Publishing House.

 

Buku tersebut diluncurkan pada 26 Agustus 2025 di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta, bertepatan dengan pelaksanaan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) BAZNAS se-Indonesia.

 

Menurut keterangan BAZNAS, penerbitan buku tersebut diinisiasi Ketua MPR RI Ahmad Muzani bersama Ketua MUI KH Anwar Iskandar.

 

Buku itu dirancang untuk menghimpun pandangan berbagai tokoh mengenai Prabowo Subianto dari beragam perspektif, mulai dari keagamaan, sosial, politik, kepemimpinan hingga hubungan internasional.

 

Namun, setelah sejumlah tokoh yang namanya tercantum memberikan klarifikasi, proses penyusunan dan pencantuman nama dalam buku tersebut justru menjadi sorotan publik.