estoria.id – Ulama sepuh kharismatik asal Nusa Tenggara Barat (NTB), Tuan Guru Haji (TGH) Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin, meninggal dunia pada Kamis (15/10/2026). Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang akrab disapa Datok Bagu itu mengembuskan napas terakhir pukul 13.37 Wita dalam usia 90 tahun setelah mengalami sakit.
Kepergian Datok Bagu menjadi kehilangan besar bagi masyarakat Lombok, khususnya kalangan santri dan Nahdliyin. Sepanjang hidupnya, ia dikenal bukan hanya sebagai ulama yang mendalami ilmu agama, tetapi juga sebagai pendidik dan pengasuh pesantren yang mendedikasikan hidupnya untuk membina umat.
Perjalanan panjangnya menempatkan TGH Turmudzi sebagai salah satu tokoh agama yang disegani di NTB. Kiprahnya dalam pendidikan Islam dan organisasi Nahdlatul Ulama menjadi bagian penting dari pengabdiannya selama puluhan tahun.
Dari Bagu, Lombok Tengah, Menjadi Ulama Kharismatik
TGH Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin lahir di Desa Bagu, Kecamatan Pringgarata, Kabupaten Lombok Tengah, NTB, pada 1 April 1936 atau 9 Muharram 1355 Hijriah.
Ia merupakan putra pasangan Haji Badaruddin bin Haji Jamaluddin dan Hajjah Aminah binti Haji Ridwan. Latar belakang keluarganya turut membentuk perjalanan hidupnya sebagai tokoh agama. Sang ayah, TGHL Badaruddin, dikenal sebagai ulama yang memulai dakwah dari musala di lingkungan rumahnya.
Gelar “Lalu” yang melekat pada namanya menunjukkan latar belakang keluarga Perwangse, yakni kalangan bangsawan dalam masyarakat suku Sasak.
Namun, ada kisah menarik di balik nama yang kemudian dikenal luas oleh masyarakat tersebut. Saat lahir, ia sebenarnya diberi nama Hasan Basri oleh guru utamanya, TGH Muhammad Saleh Hambali, yang dikenal sebagai Tuan Guru Bengkel.
Perubahan nama itu berkaitan dengan perjalanan spiritualnya ketika menimba ilmu agama di Madrasah Mu'allimin Darul Qur'an Bengkel pada 1948–1952.
Saat mempelajari kitab Al-Adzkar karya Imam An-Nawawi, Hasan Basri muda kerap menjumpai penyebutan nama Imam At-Turmudzi dalam periwayatan hadis. Dari situlah muncul nazar untuk menambahkan nama Muhammad Turmudzi apabila kelak mendapat kesempatan menunaikan ibadah haji.
Kesempatan tersebut datang pada 1954, ketika ia memperoleh kesempatan berangkat ke Tanah Suci melalui undian kuota haji. Sepulangnya dari Makkah, namanya berubah menjadi TGH Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin, dengan nama sang ayah disematkan di bagian akhir.
Menimba Ilmu di Makkah, Kembali Mengabdi kepada Umat
Pendidikan agama menjadi fondasi utama perjalanan hidup TGH Turmudzi. Setelah menempuh Sekolah Rakyat pada 1944, ia melanjutkan pendidikan di Madrasah Mu'allimin Darul Qur'an Bengkel di bawah bimbingan TGH Soleh Hambali.
Pada 1954, ia berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus memperdalam ilmu agama. Ia kemudian menetap di kota suci tersebut selama kurang lebih satu dekade.
Pengalaman belajar di Tanah Suci menjadi bekal penting ketika ia kembali ke Indonesia pada 1962. Alih-alih membatasi pengabdiannya pada aktivitas dakwah, ia memilih membangun lembaga pendidikan agar ilmu agama dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Pada tahun yang sama, ia merintis Madrasah Diniyah dan Madrasah Ibtidaiyah Qamarul Huda. Setahun kemudian, pada 1963, ia mendirikan Pondok Pesantren Qamarul Huda di Desa Bagu, Lombok Tengah.
Pesantren tersebut terus berkembang. Jenjang pendidikan formal kemudian diperkuat dengan pendirian Madrasah Tsanawiyah (MTs) pada 1968 dan Madrasah Aliyah (MA) pada 1984.
Dari lembaga yang dirintisnya itu, TGH Turmudzi membangun ruang pendidikan bagi masyarakat untuk mempelajari ilmu agama sekaligus mempersiapkan generasi penerus ulama.
Pesantren Qamarul Huda Menjadi Bagian dari Sejarah NU
Peran TGH Turmudzi tidak berhenti pada pengembangan pendidikan di tingkat lokal. Pondok Pesantren Qamarul Huda juga pernah menjadi tuan rumah Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama pada 1999.
Dalam forum tersebut, muncul gagasan untuk menghadirkan perguruan tinggi di lingkungan pesantren. Inisiatif itu mendapat dukungan Ketua Umum PBNU saat itu, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
Melalui kerja sama dengan STAI Ibrahimy Jawa Timur, STAI Ibrahimy kemudian berdiri di kompleks Pesantren Qamarul Huda pada 1999.
Kehadiran perguruan tinggi tersebut memperluas akses pendidikan bagi santri dan masyarakat. Pesantren yang awalnya berfokus pada pendidikan keagamaan pun berkembang menjadi lingkungan pendidikan dengan jenjang yang lebih luas.
Dari Pengurus Ranting hingga Mustasyar PBNU
Di luar dunia pendidikan, TGH Turmudzi memiliki perjalanan panjang dalam organisasi Nahdlatul Ulama. Pengabdiannya dimulai dari tingkat desa hingga dipercaya mengemban amanah di tingkat nasional.
Sejumlah posisi yang pernah dijalaninya meliputi:
- Pengurus Ranting NU Desa Bagu.
- Syuriyah Majelis Wakil Cabang NU Kecamatan Pringgarata.
- Wakil Rais Syuriyah PCNU Lombok Tengah.
- Rais Syuriyah PWNU Nusa Tenggara Barat.
Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.
Rangkaian amanah tersebut mencerminkan kiprahnya dalam menjaga tradisi keagamaan Ahlussunnah wal Jamaah sekaligus memperkuat kehidupan organisasi NU di Lombok dan NTB.
Ia juga dikenal sebagai mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Pada 2009, ia menyusun kitab Zadul Ma'ad yang memuat rangkaian wirid dan doa sebagai rujukan bagi santri serta masyarakat umum.
Warisan yang Melampaui Usia
Bagi TGH Turmudzi Badaruddin, pengabdian kepada umat tidak hanya diwujudkan melalui ceramah dan dakwah, tetapi juga melalui pendidikan, pembinaan spiritual, dan organisasi.
Kesederhanaan, keteguhan dalam memegang prinsip, serta keikhlasan dalam membimbing masyarakat menjadi karakter yang melekat pada sosok Datok Bagu.
Kepergiannya pada usia 90 tahun menandai berakhirnya perjalanan panjang seorang ulama yang mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk ilmu dan umat. Namun, lembaga pendidikan yang dirintisnya, para santri yang dibimbingnya, serta jejak pengabdiannya di Nahdlatul Ulama menjadi warisan yang terus berlanjut.
Datok Bagu telah berpulang. Akan tetapi, perjuangannya membangun pendidikan Islam dan membimbing umat di Lombok meninggalkan jejak yang tidak selesai bersama kepergiannya.