estoria.id – Sebelum namanya menjadi bagian dari polemik kematian pasien di Rumah Sakit Baghraf Health Care (BHC) Sumenep, Moh. Firman Ramadhani alias Dani menjalani kehidupan sederhana di lingkungan pesantren. Ia mengabdikan diri sebagai abdi dalem, menjalankan rutinitas di bagian laundry dalem Kiai, dan dikenal sebagai sosok yang ringan tangan kepada teman-temannya.
Namun, beberapa hari sebelum meninggal dunia, Dani disebut menunjukkan perubahan perilaku. Ia terlihat mondar-mandir tanpa diketahui tujuannya. Beberapa jam sebelum dibawa ke fasilitas kesehatan, pemuda berusia 22 tahun itu juga disebut lebih banyak bengong, merenung, dan gelisah sembari memegangi perutnya.
Kesaksian itu disampaikan S, teman Dani yang meminta identitasnya dirahasiakan. Ia mengaku tidak terlalu akrab dengan almarhum, tetapi masih mengingat sejumlah kejadian menjelang Dani dibawa mencari pertolongan medis.
“Beberapa hari sebelum almarhum masuk rumah sakit, ia sering mondar-mandir, entah apa tujuannya,” tutur S, kepada redaksi estoria.id, Selasa (20/10/2026).
Menurut S, perubahan itu terlihat semakin jelas beberapa jam sebelum Dani dibawa ke fasilitas kesehatan. Di tengah aktivitas sehari-hari di lingkungan pesantren, Dani disebut lebih banyak diam dan tampak gelisah.
“Beberapa jam sebelum dibawa ke rumah sakit, almarhum sering bengong, merenung, dan gelisah seraya memegang perutnya,” katanya.
Tak lama berselang, Dani tiba-tiba muntah. S mengaku tidak lagi mengingat warna muntahan tersebut. Namun, peristiwa itu membuat teman-teman yang berada di bagian laundry segera berupaya mencari pertolongan.
“Selang beberapa menit, tiba-tiba almarhum muntah,” ujar S.
Riwayat Penyakit Lambung Sejak SMA
S menyebut Dani memiliki riwayat penyakit lambung sejak masih duduk di bangku SMA. Meski demikian, ia tidak dapat memastikan apakah keluhan yang muncul menjelang Dani dibawa ke rumah sakit berkaitan dengan riwayat penyakit tersebut.
Informasi itu menjadi bagian dari gambaran kondisi Dani sebelum mendapatkan perawatan medis. Namun, tanpa pemeriksaan dan penjelasan dari tenaga medis, gejala yang disaksikan teman-temannya tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan penyebab kondisi kritis maupun kematiannya.
Setelah Dani muntah, teman-temannya yang berada di bagian laundry membawa pemuda itu ke Klinik Pratama Annuqayah.
Menurut penuturan S, klinik tersebut tidak dapat menangani kondisi Dani sehingga ia dirujuk ke RS BHC Sumenep.
“Oleh teman-teman yang ada di laundry dibawa ke Klinik Pratama Annuqayah. Oleh pihak klinik tidak mampu dan langsung dirujuk ke rumah BHC Sumenep,” kata S.
Sejak saat itu, penanganan Dani berlanjut di rumah sakit. Akan tetapi, S mengaku tidak mengetahui secara terperinci tindakan medis yang diberikan selama almarhum menjalani perawatan.
Dikenang sebagai Sosok yang Ringan Tangan
Di balik kisah tentang kondisi Dani sebelum dibawa ke rumah sakit, S juga mengingat sisi lain kehidupan temannya itu. Semasa berada di pesantren, Dani menjalani pengabdian sebagai abdi dhalem dan menjadi salah satu anggota bagian laundry di dhalem kiai.
Bagi S, Dani bukan sekadar teman yang pernah berada di lingkungan yang sama. Ia mengenangnya sebagai pribadi yang rendah hati dan bersedia membantu ketika orang lain mengalami kesulitan.
“Orangnya humble sih, Kak. Itu aja, juga saling tolong-menolong ke temannya yang susah,” ungkap S.
Kini, Dani telah meninggal dunia. Sepekan setelah kepergiannya, keluarga masih menantikan penjelasan medis yang menyeluruh mengenai penanganan yang diterimanya di RS BHC Sumenep.