estoria.id - Tiga jari yang terangkat ke udara kini bukan sekadar gestur tangan. Di tengah gelombang demonstrasi dan riuh percakapan di media sosial, simbol tersebut kembali mencuri perhatian publik. Maknanya pun berkembang, dari pesan persatuan politik hingga ekspresi protes terhadap ketidakadilan.
Gestur salam tiga jari ramai diperbincangkan menjelang demonstrasi pada Rabu (28/10/2026), bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda. Sejumlah unggahan di media sosial memperlihatkan simbol itu digunakan sebagai bentuk ekspresi dan pesan perlawanan.
Namun, salam tiga jari bukan simbol yang lahir dalam satu konteks. Dalam perjalanan penggunaannya, gestur ini berulang kali mengalami perubahan makna, mengikuti situasi politik dan gerakan sosial yang melatarbelakanginya.
Salah satu referensi budaya populer yang membuat salam tiga jari dikenal luas adalah serial novel dan film The Hunger Games. Dalam kisah tersebut, masyarakat Distrik 12 menggunakan gestur tiga jari sebagai tanda penghormatan, ungkapan duka cita, sekaligus simbol perlawanan terhadap kekuasaan Capitol yang otoriter.
Simbol yang semula hadir dalam dunia fiksi itu kemudian dikenal sebagai salah satu bentuk ekspresi solidaritas dan perlawanan dalam berbagai gerakan sosial di dunia.
Dari Persatuan Politik ke Simbol Perlawanan