estoria.id - Festival Musik Tong Tong Se-Madura 2026 telah mengumumkan para pemenangnya. Namun, alih-alih hanya menjadi perayaan musik tradisional Madura, pengumuman tersebut justru memantik perdebatan di media sosial.

 

Hasil festival yang dipublikasikan akun Instagram @disbudporaparsumenep milik Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Sumenep, yang diunggah pada 6 September 2026 menunjukkan dominasi peserta asal Sumenep

 

Baladewa dari Sumenep ditetapkan sebagai Juara Umum, sekaligus menyabet penghargaan sebagai salah satu dari 10 penyaji terbaik dan masuk lima besar aransemen terbaik.

 

Di kategori 10 penyaji terbaik, Sumenep bahkan menempatkan sejumlah wakil, yakni Baladewa, Sat Set Sot, Peccot Ngamox, Bagaspasti, Angin Ribut, serta Putra Siding Puri. Sementara Kramat dan Subur Makmur 99 mewakili Pamekasan, serta Putra SBR dari Sampang dan Barong Ireng dari Pamekasan.

 

Subur Makmur 99 atau SM99 juga tercatat masuk dalam beberapa kategori. Grup asal Pamekasan itu masuk dalam 10 penyaji terbaik, lima aransemen terbaik, serta 10 dekorasi terbaik.

 

Namun, posisi tersebut justru memunculkan pertanyaan dari sejumlah warganet. Mereka mempertanyakan bagaimana sistem penentuan Juara Umum dilakukan, terutama karena SM99 disebut tampil kuat di beberapa kategori tetapi tidak membawa pulang gelar utama.

 

Salah satu akun, @ce_ocm, mempertanyakan transparansi sistem penilaian.

 

“BAGAIMANA SISTEM PENILAIAN NYA GA JELAS DARI TAHUN 2025 UDA PENUH DRAMA MASA NOMINASI 3 KALAH SAMA NOMINASI 2 SANGAT ‘TIDAK MASUK AKAL MON TAK KENG DANA CAIR’.”

 

Komentar lain bahkan secara langsung menyoroti posisi SM99.

 

SM99 ada di 3 kategori sekaligus tapi bukan juara umum? juri panitia lawak ,” tulis akun @man_aveiro7.

 

Nada serupa disampaikan @anggraeniridhoi_kusdianto yang menilai hasil tersebut membingungkan.

 

“LASKAR SUBUR MAKMUR 99 msuk 3 katagori tpi g menang Lucu.”

 

Pertanyaan yang lebih mendasar datang dari akun @chacha_c_u_p_i_d. Ia mengaku bukan pendukung salah satu peserta, tetapi ingin mengetahui dasar penentuan Juara Umum.

 

“Bukan pendukung siapapun, hanya penikmat saja. Cuma bingung saja, juara umum itu didapat dari hasil Jumlah point apa jumlah masuk kategori? Atau gimana?”

 

Perdebatan tersebut memperlihatkan satu persoalan yang dianggap belum terjawab oleh sebagian warganet: apa sebenarnya formula yang digunakan untuk menentukan Juara Umum Festival Musik Tong Tong Se-Madura 2026?

 

Apakah gelar tersebut ditentukan berdasarkan akumulasi poin dari seluruh kategori, jumlah penghargaan yang diraih, atau terdapat bobot penilaian tertentu yang tidak dipublikasikan?

 

Terlepas dari berbagai komentar tersebut, hasil resmi festival tetap menempatkan Baladewa dari Sumenep sebagai Juara Umum. Dominasi Sumenep juga terlihat dari banyaknya nama peserta daerah tersebut yang masuk dalam daftar penerima penghargaan.

 

Namun, derasnya pertanyaan di kolom komentar menunjukkan bahwa kemenangan tidak hanya membutuhkan hasil, tetapi juga penjelasan yang membuat publik memahami bagaimana hasil itu diperoleh.

 

Transparansi mengenai sistem penilaian, bobot setiap kategori, serta mekanisme penentuan Juara Umum menjadi hal yang dinantikan untuk menjawab polemik yang berkembang.

 

Redaksi estoria.id telah berupaya meminta konfirmasi kepada Kepala Disbudporapar Kabupaten Sumenep, Faruq Hanafi, melalui pesan WhatsApp. Namun, hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan yang disampaikan.

 

Pesan yang dikirimkan redaksi diketahui telah terkirim dengan tanda centang dua, tetapi Faruq Hanafi belum memberikan respons terkait persoalan tersebut.