Setetes demi setetes air yang jatuh itu adalah bahasa purba yang lebih tua dari logika. Bahasa yang tak membutuhkan tata bahasa, namun selalu dimengerti oleh para hati.
Setiap tetesnya mengajarkan satu hal sederhana, bahwa yang paling jujur dalam diri manusia sering kali tidak berbentuk kata, melainkan jatuh… diam-diam… dari mata.
Maka ketika air mata mengalir, jangan buru-buru menghapusnya dengan malu. Bisa jadi, di sanalah lahir keberanian paling sunyi. Keberanian untuk menjadi manusia seutuhnya. ***