estoria.id  – Biaya yang dikeluarkan Amerika Serikat untuk membiayai perang melawan Iran terus membengkak. Pemerintahan Presiden Donald Trump mengungkapkan pengeluaran militer sejauh ini telah mencapai 37,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp610 triliun. Meski demikian, Washington masih mengajukan tambahan anggaran perang kepada Senat.

 

Angka tersebut disampaikan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth saat memberikan keterangan dalam sidang Komite Anggaran Senat pada Selasa (21/07/2026) waktu setempat.

 

"Perkiraan yang kami miliki hingga hari ini adalah 37,5 miliar dolar AS," kata Hegseth, seperti dikutip dari Al Jazeera, Rabu (22/07/2026).

 

Menurut Hegseth, estimasi tersebut sudah mencakup biaya operasional militer hingga tagihan pemeliharaan peralatan perang sampai akhir September 2026.

Jumlah itu meningkat sekitar 8 miliar dolar AS dibandingkan laporan pemerintah pada Mei lalu yang memperkirakan biaya perang masih berada di angka 29 miliar dolar AS.

 

Namun, besaran anggaran yang dipaparkan Pentagon mendapat sorotan dari sejumlah pihak. Lembaga riset ekonomi Moody's Analytics memperkirakan beban yang ditanggung Amerika Serikat sesungguhnya bisa mencapai 150 miliar dolar AS jika memasukkan dampak ekonomi lanjutan, termasuk kenaikan harga energi.

 

Dalam sidang yang sama, Hegseth mengakui konflik berkepanjangan mulai menguras stok persenjataan Amerika Serikat. Karena itu, Pentagon meminta tambahan anggaran agar produksi senjata dapat dipercepat.

 

"Kami memerlukan perluasan jalur produksi dan mempercepat pengiriman amunisi," ujar Hegseth.

 

Ia menyebut beberapa sistem persenjataan yang menjadi prioritas untuk ditingkatkan produksinya meliputi motor roket padat, bom berpemandu JDAM, senjata hipersonik, serta kemampuan pertahanan anti-drone.

 

Hegseth juga memperingatkan bahwa jika tambahan anggaran tidak segera disetujui Kongres, Pentagon terpaksa memangkas pos anggaran lain.

 

"Jika tidak, kami kemungkinan harus memangkas biaya pelatihan di masa depan untuk menutupi kebutuhan tersebut," katanya.

 

Pemerintahan Trump sendiri mengusulkan anggaran pertahanan sebesar 1,5 triliun dolar AS, dengan hampir 70 miliar dolar AS di antaranya dialokasikan khusus untuk operasi militer melawan Iran.

 

Meski begitu, permintaan tersebut memicu perdebatan sengit di Senat. Sejumlah senator dari Partai Demokrat mempertanyakan efektivitas strategi perang sekaligus besarnya anggaran yang diminta Pentagon.

 

Senator Gary Peters menilai kepemimpinan Hegseth di Pentagon gagal menunjukkan strategi perang yang meyakinkan. Senator Kirsten Gillibrand juga menuding Hegseth telah menyesatkan publik ketika mengklaim kemampuan rudal Iran telah dihancurkan.

Menanggapi kritik itu, Hegseth justru menilai serangan para senator Demokrat bermuatan politik menjelang pemilu sela.

 

"Anda hanya sedang berusaha membuat iklan kampanye," ujar Hegseth kepada Gillibrand dalam sidang tersebut.

 

Sementara itu, Senator Patty Murray secara terbuka menyatakan penolakannya terhadap usulan tambahan anggaran perang.

 

"Saya akan terus terang. Sejujurnya, permintaan Anda tidak masuk akal," tegas Murray.

 

Hingga kini, Senat Amerika Serikat belum mengambil keputusan apakah akan menyetujui tambahan anggaran perang yang diajukan pemerintahan Trump. Namun, penolakan dari kubu Demokrat diperkirakan akan membuat proses pembahasannya berlangsung alot.