estoria.id – Suasana di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, mendadak berubah setelah ratusan santri mengalami keluhan mual hingga diare. Mereka diduga mengalami keracunan setelah menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).

 

Para santri yang mengalami gejala kemudian dievakuasi ke sejumlah fasilitas kesehatan. Puluhan ambulans dilaporkan hilir-mudik membawa santri dari lingkungan pesantren menuju rumah sakit dan puskesmas.

 

Bupati Sidoarjo Subandi memastikan para santri yang menjalani perawatan telah mendapatkan penanganan medis.

“Alhamdulillah semua sudah terpantau dan ditangani dengan baik, aman, dan tidak ada kendala apapun,” kata Subandi saat mengudara di Suara Surabaya, Senin (1/9/2026).

 

Menurut Subandi, keluhan yang dialami para santri relatif serupa. Sebagian besar mengalami mual dan diare.

Ia mengatakan kondisi para santri yang telah mendapat perawatan kini berangsur membaik dan memasuki tahap pemulihan.

 

“Persoalannya hanya diare-diare saja. Insyaallah tinggal pemulihan. Semua sudah didata oleh pondok, jadi tidak ada kekhawatiran terhadap orang tua,” ujarnya.

 

Gejala Muncul Setelah Santap Menu MBG

Insiden tersebut diduga mulai dirasakan para santri setelah mereka menyantap makanan MBG. Berdasarkan keterangan yang dihimpun, sejumlah santri mulai mengalami keluhan setelah salat zuhur dan kondisi semakin terlihat saat memasuki waktu asar hingga magrib.

 

Salah satu santri berinisial Sy (15), siswa Madrasah Aliyah (MA) Pondok Pesantren Manbaul Hikam, mengaku hanya menyantap satu suap makanan MBG pada siang hari.

 

Menu yang disajikan terdiri atas nasi putih, telur orak-arik, tahu bali, serta olahan sayuran.

 

“Saya makan cuma satu suap,” kata Sy saat ditemui di IGD RSUD.

 

Santri lainnya, Rk, memiliki pengalaman berbeda. Ia mengaku menyantap olahan sayuran hingga habis. Namun, menurutnya, makanan tersebut terasa kecut atau masam. Keluhan kemudian muncul beberapa jam setelah makan.

 

“Lalu pada Magrib saya mual dan pusing,” ujarnya.

 

Olahan sayuran dalam menu MBG turut menjadi perhatian. Sejumlah santri menyebut makanan tersebut berupa kacang panjang, sementara keterangan lainnya menyebut buncis.

 

Namun, belum dapat dipastikan jenis makanan maupun penyebab pasti munculnya gejala yang dialami para santri. Dugaan keterkaitan dengan menu MBG masih membutuhkan pemeriksaan dan penyelidikan lebih lanjut.

 

Saat kejadian berlangsung, sejumlah rumah sakit dan puskesmas di Sidoarjo menerima para santri yang mengalami keluhan. Area pesantren juga tampak mendapat penjagaan personel TNI.

 

Jumlah santri yang menjalani perawatan pun masih mengalami perbedaan berdasarkan sumber dan waktu pendataan.

 

Pantauan pada Selasa malam pukul 22.33 WIB mencatat 271 korban ditangani di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo, 16 orang di RS Delta Surya, dan 57 orang di RSI Siti Hajar. Jika dijumlahkan, angka tersebut mencapai 344 korban.

 

Sementara itu, Bupati Sidoarjo Subandi menyebut terdapat 273 korban yang dirawat di tiga rumah sakit tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Sidoarjo dr Lakhsmie Herawati Yuwantina juga menyampaikan angka berbeda. Ia menyebut sebanyak 293 korban mendapatkan perawatan di delapan rumah sakit.

 

Perbedaan data tersebut menunjukkan proses pendataan dan pemutakhiran jumlah korban masih berlangsung.

Hingga kini, kondisi para santri terus dipantau. Pemerintah daerah bersama tenaga kesehatan juga masih melakukan penanganan untuk memastikan para santri yang terdampak dapat segera pulih.

 

Sementara penyebab pasti munculnya keluhan pada ratusan santri masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut.