Desakan Syed Saddiq muncul ketika kualitas udara di sejumlah wilayah Asia Tenggara memburuk akibat penyebaran asap kebakaran hutan.
Dampaknya tidak hanya dirasakan melalui gangguan kesehatan dan penurunan aktivitas pariwisata, tetapi juga menghambat kegiatan pendidikan.
Syed Saddiq menyoroti kelompok anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah yang dinilai paling rentan ketika sekolah terpaksa menghentikan pembelajaran tatap muka.
Keterbatasan perangkat seperti laptop dan tablet, serta akses internet yang tidak memadai, membuat sebagian siswa kesulitan mengikuti pembelajaran jarak jauh.
Di Singapura, konsentrasi partikel polutan PM2.5 dalam pengukuran satu jam dilaporkan mencapai 284 mikrogram per meter kubik di wilayah barat pada Rabu (14/10/2026). Angka tersebut menjadi yang tertinggi sepanjang tahun itu dan masuk kategori sangat tinggi menurut Badan Lingkungan Nasional Singapura.