estoria.id - Kisah seorang guru sekolah dasar di pelosok Sulawesi Tengah menjadi sorotan setelah aksinya menyiapkan makanan sendiri untuk para siswa viral di media sosial.
Guru PPG Prajabatan di SDK Ogolau, Kabupaten Parigi Moutong, Riska Andriani, memilih memasak makanan secara mandiri karena sekolah tempatnya mengajar hingga kini belum mendapat program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Cerita tersebut dibagikan melalui akun Instagram @rskdrian dan menarik perhatian ribuan pengguna media sosial. Video yang diunggahnya bahkan telah ditonton lebih dari 1,5 juta kali.
Riska mengatakan, kondisi geografis menjadi salah satu kendala yang membuat program MBG belum menjangkau sekolahnya. Untuk mencapai SDK Ogolau, akses yang harus dilalui cukup sulit karena berada di wilayah perbukitan dan masih melewati jalan setapak.
Masak Sendiri agar Siswa Tak Merasa Tertinggal
Menurut Riska, para siswa sebenarnya kerap menanyakan kapan mereka akan mendapatkan makanan bergizi seperti siswa di sekolah lain.
Pertanyaan tersebut membuatnya tergerak untuk memberikan makanan secara mandiri, meski dengan keterbatasan yang ada.
"Aku rela bikin MBG mandiri untuk anak-anakku biar ngga minder dan merasa hak mereka tidak diberikan," tulis Riska dalam unggahannya.
Ia mengungkapkan, para siswa bahkan sering bertanya kepadanya mengenai program MBG.
"Mereka selalu tanya, 'Ibu kapan torang dapat MBG?' Di desa ini hanya sekolahku yang belum dapat MBG karena akses sulit," lanjutnya.
Riska berharap kondisi tersebut mendapat perhatian karena menurutnya justru anak-anak di wilayah pelosok yang membutuhkan kehadiran program MBG.
"Kami justru butuh MBG hadir di pelosok, anak-anak kami menantikannya," tulisnya.
Makanan Dibuat dari Bantuan Donatur
Riska menyadari makanan yang dibuat secara mandiri belum dapat memenuhi standar gizi seperti program MBG. Ia mengaku tidak memiliki perhitungan kandungan gizi sebagaimana pelaksanaan program resmi.
Meski begitu, makanan tersebut tetap diupayakan agar para siswa bisa mendapatkan asupan selama berada di sekolah.
"Sambil nunggu kami bikin makanan ala kadarnya, sambil nunggu walaupun ngga itung gizi, ngga lengkap, dan banyak kekurangan berkat bantuan teman-teman," ungkapnya.
Menurut Riska, makanan yang dibagikan kepada siswa berasal dari bantuan yang dikumpulkan melalui para donatur.
Ia menegaskan, aksinya bukan untuk menggantikan program MBG, melainkan menggambarkan kondisi anak-anak di daerah yang belum terjangkau program tersebut.
"Aku cuma mau kasih tahu kalau di pelosok tidak bisa dijangkau MBG yang seharusnya jadi hak anak sekolah di nusantara ini," tulisnya.
Riska juga berharap pemerintah memperbaiki akses menuju sekolah. Dengan jalan yang lebih layak, mobilitas siswa dan guru akan lebih mudah sekaligus membuka peluang agar program MBG dapat menjangkau sekolah tersebut.
Warganet Soroti Pemerataan MBG
Kisah Riska mendapat beragam respons dari warganet. Banyak yang mengapresiasi kepeduliannya terhadap siswa, sekaligus menyoroti pentingnya pemerataan program MBG hingga wilayah terpencil dan tertinggal.
"Padahal ini yang membutuhkan MBG, mereka yang ada di wilayah 3T," tulis salah satu pengguna Instagram.
Komentar lain menyebut sekolah di wilayah tersebut seharusnya menjadi salah satu prioritas penerima MBG.
"MBG tepat sasaran ini yang didukung, harusnya adik-adik ini yang menjadi prioritas penerima MBG," tulis warganet lainnya.
Ada pula warganet yang mengusulkan agar pelaksanaan penyediaan makanan di daerah tersebut melibatkan masyarakat setempat.
"Kalau guru tidak bisa memasak karena waktunya kurang, mama-mama di sana saya yakin ikhlas memasakkan untuk anak-anak, tinggal sediakan bahan-bahannya dan peralatannya," tulis seorang pengguna.