estoria.id – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, memasuki salah satu tahapan penting. Sembilan ulama sepuh ditetapkan sebagai anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), Mingu (30/8/2026).

 

Penetapan itu dilakukan setelah Sidang Pleno IV menyelesaikan proses penghitungan suara. Kesembilan ulama tersebut selanjutnya akan menjalankan amanah penting dalam menentukan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026-2031.

 

Nama-nama yang terpilih berasal dari berbagai daerah dengan latar belakang keilmuan dan pengalaman organisasi yang panjang. Berikut profil singkat sembilan ulama yang dipercaya menjadi anggota AHWA Muktamar ke-35 NU:

 

1. KH Nurul Huda Djazuli

 

KH Nurul Huda Djazuli atau yang akrab disapa Mbah Yai Da merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Mojo, Kediri.

 

Ia merupakan putra dari KH Ahmad Djazuli Utsman dan Nyai Hj Rodliyah Djazuli. Kiai Huda bersama saudara-saudaranya meneruskan pengelolaan Pesantren Al-Falah setelah wafatnya sang ayah.

 

Dalam menjalankan kehidupan pesantren, Kiai Huda dikenal teguh memegang prinsip ta'lim wa ta'allum, yakni belajar dan mengajar. Tradisi tersebut menjadi bagian penting dari warisan keilmuan yang ditanamkan ayahnya.

 

Aktivitasnya banyak dihabiskan untuk mendampingi santri dan mengajarkan kitab-kitab klasik. Salah satu pengajian yang diasuhnya adalah kajian Al-Hikam.

Di lingkungan NU, Kiai Huda dipercaya sebagai Mustasyar PBNU. Ia juga pernah masuk dalam jajaran AHWA pada Muktamar ke-34 NU di Lampung.

 

2. KH Tgk Nuruzzahri Yahya

 

Dari Aceh, terdapat nama KH Tgk Nuruzzahri Yahya, ulama yang dikenal dengan sapaan Waled NU.

Nuruzzahri lahir di Mideun Jok, Samalanga, Bireuen, Aceh, pada 1951 dari pasangan Tgk H Yahya dan Sa’diyah.

 

Pendidikan agama pertama diperolehnya dari keluarga sebelum kemudian melanjutkan ke Ma’had Ulum Diniyah Islamiyah (MUDI). Ia juga sempat mengenyam pendidikan formal di Sekolah Rakyat 3 Samalanga.

 

Pada 1974, ia berangkat ke Jombang untuk menempuh pendidikan di Fakultas Syariah Institut Keislaman Hasyim Asy’ari. Namun, pendidikan tersebut tidak sampai selesai. Ia kemudian memperdalam ilmu agama di Pondok Pesantren Darul Hadits Jombang.

 

Pengabdiannya diwujudkan dengan mendirikan Dayah Ummul Ayman pada 1990, sebuah lembaga pendidikan keagamaan yang juga menaungi anak-anak yatim.

 

Nuruzzahri memiliki pengalaman panjang dalam organisasi keagamaan. Ia pernah menduduki sejumlah posisi di NU Aceh serta organisasi ulama dayah.

 

Perhatiannya tidak hanya tertuju pada pendidikan agama. Ia juga mendorong para santri agar memiliki kesiapan untuk terjun ke ruang publik sehingga kepentingan pesantren tidak tersisih dalam dinamika kehidupan sosial dan politik.

 

3. AGH Baharuddin HS

 

AGH Baharuddin HS merupakan ulama asal Sulawesi Selatan yang memiliki rekam jejak panjang dalam pendidikan dan organisasi keagamaan.

 

Ia pernah menjadi Mustasyar PBNU masa khidmah 2021-2026. Di tingkat wilayah, Baharuddin dipercaya sebagai Rais Syuriyah PWNU Sulawesi Selatan periode 2024-2029.

 

Pendidikan agamanya dimulai dari sang ayah, AGH Abduh Shafa. Ia kemudian tumbuh menjadi ulama yang aktif mengajarkan kitab kuning.

 

Baharuddin juga dikenal memiliki kemampuan dalam kaligrafi Arab. Sejumlah karya kaligrafi telah dihasilkannya, termasuk tulisan dan buku yang berkaitan dengan bidang tersebut.

 

Ia juga pernah membina pengajian kitab Khasinatul Asrar dan Al-Hikam di Pesantren An-Nahdlah sekaligus dipercaya sebagai Syaikhul Ma’had.

 

Di luar NU, Baharuddin merupakan Ketua Umum MUI Kota Makassar, jabatan yang telah diembannya sejak 2015.

 

4. KH Miftachul Akhyar

 

Nama KH Miftachul Akhyar bukan wajah baru dalam forum AHWA. Ia kembali terpilih setelah sebelumnya menjadi anggota AHWA pada Muktamar ke-34 NU dan kemudian dipercaya sebagai Rais Aam PBNU.

 

Lahir di Surabaya pada 1953, Kiai Miftach merupakan putra KH Abdul Ghoni, pengasuh Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah.

 

Perjalanan keilmuannya ditempa di sejumlah pesantren di Jawa Timur dan Jawa Tengah, termasuk Tambakberas, Sidogiri, dan Lasem. Ia juga mengikuti Majelis Ta'lim Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki.

 

Bekal tersebut kemudian mendorongnya mendirikan Pondok Pesantren Miftachus Sunnah di Surabaya.

 

Karier organisasinya di NU terus menanjak. Ia pernah menjadi Rais Syuriyah PCNU Surabaya, Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur, Wakil Rais Aam PBNU, hingga menjadi Rais Aam PBNU.

 

Kiai Miftach juga dikenal rutin menggelar pengajian kitab Al-Hikam setiap Jumat setelah salat Jumat.

 

5. KH Afifuddin Muhajir

 

KH Afifuddin Muhajir adalah ulama kelahiran Sampang, Madura, 20 Mei 1955.

Sejak kecil, kehidupan Kiai Afifuddin tidak jauh dari lingkungan pesantren. Ketika berusia sekitar delapan tahun, ia dibawa ke Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo.

 

Hampir seluruh jenjang pendidikannya ditempuh di lingkungan pesantren tersebut. Ia kemudian melanjutkan pendidikan magister di Universitas Islam Malang.

 

Kiai Afifuddin dikenal sebagai salah satu ulama NU yang memiliki kepakaran dalam fikih dan ushul fikih. Sejak usia sekitar 20 tahun, ia telah dipercaya mengajar berbagai kitab kuning.

 

Pengabdiannya di Sukorejo terus berkembang hingga ia dipercaya menjadi Wakil Pengasuh Bidang Keilmuan sekaligus Naib Mudir Ma'had Aly Salafiyah Syafi'iyah.

 

Di NU, ia pernah menjadi Katib Syuriyah PBNU dan kemudian dipercaya sebagai Rais Syuriyah PBNU serta Wakil Rais Aam PBNU.

 

Pemikirannya juga banyak digunakan dalam membaca persoalan sosial, keagamaan, dan kebangsaan. Ia terlibat dalam pembahasan sejumlah isu penting NU, termasuk metodologi istinbath hukum, Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah, hingga konsep penyebutan non-Muslim dalam negara bangsa.

 

Atas kiprah akademik dan keilmuannya, Kiai Afifuddin juga menerima gelar doktor honoris causa dari UIN Walisongo Semarang.

 

6. KH Anwar Iskandar

 

KH Anwar Iskandar merupakan ulama kelahiran Berasan, Muncar, Banyuwangi, pada 24 April 1950.

 

Ia berasal dari keluarga pesantren. Ayahnya, KH Iskandar, merupakan pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ulum.

 

Semasa muda, Anwar menimba ilmu di sejumlah pesantren, termasuk Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Pada 1970, ia melanjutkan pendidikan ke Jakarta dan mengambil bidang Sastra Arab di UIN Syarif Hidayatullah.

 

Jejak organisasinya dimulai sejak aktif di IPNU. Ketika menjadi mahasiswa, ia bergabung dengan PMII dan terlibat hingga tingkat nasional.

 

Pengalamannya kemudian berlanjut di Gerakan Pemuda Ansor dan struktur NU. Ia pernah menjadi Rais Syuriyah PCNU Kediri, Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur, hingga Wakil Rais Aam PBNU periode 2021-2026.

 

Di tingkat nasional, Kiai Anwar juga dipercaya memimpin Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ia kembali terpilih sebagai Ketua Umum MUI untuk periode 2025-2030.

 

7. KH Anwar Manshur

 

KH Anwar Manshur merupakan salah satu ulama sepuh yang sangat lekat dengan Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.

 

Ia lahir di Lirboyo pada 1 Maret 1938. Ayahnya, Kiai Manshur, berasal dari Jombang, sedangkan ibunya, Nyai Salamah, merupakan putri KH Abdul Karim, pendiri Pesantren Lirboyo.

 

Pendidikan agamanya dimulai di Pesantren Tarbiyatunnasyiin milik ayahnya di Pacul Gowang, Diwek, Jombang. Ia kemudian sempat belajar di Tebuireng sebelum kembali ke Lirboyo.

Sejak 2014 hingga sekarang, Kiai Anwar Manshur dipercaya sebagai Pengasuh Pesantren Lirboyo.

 

Di lingkungan NU, ia juga mengemban sejumlah amanah penting. Ia tercatat sebagai Mustasyar PBNU dan Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur.

 

8. KH Said Aqil Siroj

 

Nama KH Said Aqil Siroj kembali muncul dalam forum penting NU.

 

Mantan Ketua Umum PBNU dua periode, 2010-2021, tersebut kini dipercaya menjadi salah satu anggota AHWA Muktamar ke-35 NU.

 

Kiai Said lahir di Cirebon pada 3 Juli 1953. Ia merupakan putra KH Aqil Siroj dan Nyai Hj Afifah Harun, keluarga yang memiliki tradisi pesantren kuat.

 

Pendidikan keagamaannya ditempuh di sejumlah pesantren, termasuk Pesantren KHAS Kempek, Lirboyo, dan Al-Munawwir Krapyak.

 

Ia kemudian melanjutkan studi ke Arab Saudi. Pendidikan sarjana ditempuh di Universitas King Abdul Aziz, Jeddah, sebelum melanjutkan magister dan doktor di Universitas Ummul Qura, Makkah.

 

Karier organisasinya di NU dimulai sejak 1994 ketika dipercaya menjadi Wakil Katib ‘Aam PBNU. Kiprahnya kemudian mencapai puncak ketika ia terpilih menjadi Ketua Umum PBNU pada 2010 dan kembali memimpin hingga 2021.

 

Kiai Said juga mendirikan Pesantren Luhur Al-Tsaqafah di Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada 2013.

 

9. KH Abun Bunyamin

 

Ulama terakhir yang masuk jajaran AHWA adalah KH Abun Bunyamin, Rais Syuriyah PWNU Jawa Barat sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta.

 

Ia lahir pada 4 April 1954 dengan nama Muhammad Tamrin. Ketika memasuki sekolah dasar, namanya berubah menjadi Ade Bunyamin dan akrab dipanggil Amin.

 

Perjalanan keilmuannya ditempa di sejumlah pesantren, termasuk Pesantren Cipasung. Di sana ia belajar kepada KH Ruhiat dan KH Ilyas Ruhiat.

 

Selain Cipasung, ia juga pernah menimba ilmu di Pesantren Hidayatul Muta’allimin Majalengka, Al-Falah dan Santiong Cicalengka, Sukamiskin Bandung, serta Riyadlul Alfiyyah Sadang Garut.

 

Di Cipasung, perjalanan Amin berkembang dari santri biasa hingga dipercaya menjadi Ketua Asrama Pusaka dan kemudian menangani bidang muballighin.

 

Salah satu pesan yang terus ia pegang dari gurunya adalah menjaga kedisiplinan ibadah, termasuk salat tepat waktu, membaca Al-Fatihah untuk guru, dan membaca Al-Qur'an setiap hari.

 

Kini, ia dipercaya menjadi salah satu dari sembilan ulama yang memiliki amanah besar dalam menentukan arah kepemimpinan PBNU lima tahun mendatang.

 

Sembilan ulama tersebut bukan sekadar nama yang mengisi daftar AHWA. Mereka membawa pengalaman panjang dari pesantren, pendidikan, organisasi, hingga kehidupan kebangsaan.

 

Setelah terpilih, AHWA akan menjalankan tugas penting dalam rangkaian Muktamar ke-35 NU, termasuk menentukan Rais Aam PBNU masa khidmah 2026-2031.

 

Keputusan sembilan ulama ini nantinya menjadi salah satu tahapan paling menentukan dalam menentukan arah kepemimpinan organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut untuk lima tahun ke depan.