estoria.id - Anak tidak hanya tumbuh dari apa yang diajarkan kepadanya. Cara orang tua berbicara, meluangkan waktu, memberi perhatian, hingga memperlakukan anak dalam keseharian ikut membentuk karakter mereka.
Kesadaran itu menjadi pijakan Yayasan Pondok Pesantren Manarul Huda Pakamban Daya, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, saat menggelar kegiatan Parenting untuk pertama kalinya, Sabtu (5/9/2026).
Kegiatan tersebut digelar bersama alumni dan melibatkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Annuqayah Posko 04 yang tengah menjalankan pengabdian di lingkungan Pondok Pesantren Manarul Huda.
Forum ini mempertemukan para ibu di sekitar pesantren dalam ruang edukasi mengenai pengasuhan anak. Para peserta diajak melihat bahwa pendidikan anak bukan semata urusan sekolah, melainkan dimulai dari rumah dan sangat bergantung pada keterlibatan orang tua.
Sejumlah unsur hadir dalam kegiatan tersebut, mulai dari jajaran pengasuh PP Manarul Huda, pengurus yayasan, mahasiswa KKN Universitas Annuqayah Posko 04, hingga masyarakat, khususnya para ibu di sekitar pesantren.
Yayasan menghadirkan Raudlatun atau Odax, dosen Universitas PGRI Sumenep, sebagai pemateri utama.
Dalam kesempatan itu, Pengasuh PP Manarul Huda, K. Misbahul Khoir, S.Ag., menekankan besarnya pengaruh orang tua terhadap pembentukan karakter anak.
Menurut dia, setiap anak lahir dalam keadaan polos dan lingkungan terdekat memiliki peran besar dalam memberikan warna terhadap perkembangan mereka.
“Anak yang baru lahir itu seperti kertas putih. Masih bersih dan polos. Orang tua yang kemudian memberikan warna melalui pendidikan dan pengasuhan yang diterapkan,” ujar K. Misbahul Khoir.
Karena itu, ia mengingatkan orang tua agar tidak menganggap pengasuhan sebagai persoalan sepele. Apa yang dilakukan orang tua dalam keseharian dapat menjadi bagian dari proses pembentukan kepribadian anak.
“Orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter dan kepribadian anak. Apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan anak dari orang tuanya akan menjadi bagian dari proses tumbuh kembangnya,” katanya.
Materi kemudian dilanjutkan Raudlatun. Ia mengajak para peserta melihat pengasuhan bukan hanya dari sisi kewajiban orang tua, tetapi juga dari bagaimana anak diperlakukan sebagai individu yang memiliki kebutuhan emosional.
Menurut Raudlatun, terdapat lima nilai penting yang perlu menjadi pijakan dalam pengasuhan, yakni Fitrah, Rahmah, Mas'uliyah, Uswah Hasanah, dan Maslahah.
“Dalam pengasuhan ada lima nilai utama yang perlu kita pegang, yaitu Fitrah, Rahmah, Mas'uliyah, Uswah Hasanah, dan Maslahah,” tutur Raudlatun.
Ia menekankan bahwa kelima nilai tersebut pada akhirnya harus diwujudkan dalam bentuk cinta yang dapat dirasakan anak.
“Semua itu pada akhirnya harus diwujudkan melalui cinta. Bukan hanya cinta yang diucapkan, tetapi cinta yang benar-benar dirasakan oleh anak,” ujarnya.
Bentuk cinta tersebut, lanjut Raudlatun, dapat hadir melalui hal-hal sederhana yang sering kali justru luput dari perhatian orang tua.
“Cinta itu bisa diberikan melalui waktu yang berkualitas bersama anak, kata-kata yang menguatkan, pelayanan, pemberian yang bermakna, serta sentuhan dan kedekatan fisik,” katanya.
Pesan tersebut membuat kegiatan berlangsung interaktif. Selama kurang lebih tiga jam, perhatian peserta tetap terjaga. Para ibu tidak hanya menyimak pemaparan, tetapi juga merespons berbagai ilustrasi dan refleksi yang disampaikan pemateri.
Suasana semakin cair ketika pemateri mengangkat sejumlah contoh persoalan pengasuhan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tawa dan respons peserta beberapa kali terdengar sebelum forum berlanjut pada sesi diskusi.
Pada sesi tersebut, para peserta aktif mengajukan pertanyaan sekaligus berbagi pengalaman mengenai berbagai persoalan yang mereka hadapi dalam mendampingi anak.
Diskusi itu membuat kegiatan Parenting tidak berhenti sebagai forum penyampaian materi. Para ibu mendapatkan ruang untuk membicarakan pengalaman pengasuhan secara terbuka, sementara pemateri memberikan perspektif dan refleksi terhadap persoalan yang muncul.
Bagi Yayasan PP Manarul Huda, kegiatan perdana ini menjadi langkah awal untuk menghadirkan ruang edukasi yang lebih dekat dengan masyarakat. Pendidikan anak dipandang tidak cukup hanya berlangsung di lingkungan sekolah dan pesantren, tetapi juga membutuhkan keterlibatan keluarga.
Kegiatan tersebut sekaligus memperkuat pesan bahwa keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama bagi anak. Dari rumah, anak belajar mengenal kasih sayang, tanggung jawab, keteladanan, sekaligus cara berinteraksi dengan orang lain.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan doa bersama. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemberian cenderamata kepada pemateri dan kenang-kenangan kepada peserta sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi mereka.