Aku memanggilmu, Said.
Lihatlah jari-jari tanganku
yang masih menari di halaman berita
tentang kematianku sendiri.
Barangkali hanya itu yang tersisa
dari tubuh yang tak lagi bisa bersaksi.
Aku tak hendak mengatakan
kaulah yang mendirikan rumah sakit itu,
bangunan megah tempat aku singgah
untuk menjemput sisa usia,
sebelum malam menutup pintunya
dan pagi tak lagi mengenal namaku.
Aku tak peduli
kau sedang menggenggam anggaran
atau duduk di kursi kekuasaan mana.
Aku terbaring di sini
karena pernah memilih berbaring
di atas ranjang bangunan itu.
Selebihnya, aku tak tahu
siapa yang menjaga tubuhku
ketika aku tak lagi sanggup menjaganya.
Aku memanggilmu, Said.