Dengan kuasamu,
cobalah ketuk pintu anak-anakmu.
Mintalah mereka membuka percakapan
yang telanjur tertutup
sejak tubuhku dibawa pulang
tanpa jawaban yang utuh.

 

Aku ingin keluargaku tahu
apa yang sesungguhnya terjadi,
agar mereka dapat melepaskanku
tanpa harus terus menggenggam tanya,
agar ikhlas tak tumbuh dari keterpaksaan,
agar menerima bukan berarti
mengubur kecurigaan hidup-hidup.

 

Biarlah aku menanggung
kesalahan orang-orang di dekatmu,
juga kegelisahan orang-orang di dekatku.
Aku sudah berada di tempat
yang tak lagi membutuhkan pembelaan.
Tetapi mereka yang kutinggalkan
masih harus bangun setiap pagi
dengan sesuatu yang belum selesai.

 

Aku memanggilmu, Said.

 

Bukan untuk meminta
pintu-pintu dibuka bagi namaku,
bukan pula agar seseorang
lekas ditunjuk sebagai penyebab
dan perkara ini lekas dianggap usai.