Arena

Demokrasi Lahir dari Apa?

Banyak yang mengira demokrasi lahir dari kesepakatan yang tenang. Padahal, sebenarnya demokrasi tumbuh dari perbedaan yang dikelola.

ESTORIA Demokrasi sering dibayangkan sebagai suasana damai, di mana semua orang sepakat dan tidak ada konflik. Padahal, sejarah justru menunjukkan sebaliknya: demokrasi lahir dari perdebatan, dari perbedaan yang berani disuarakan.

Secara etimologis, demokrasi berasal dari kata demos (rakyat) dan kratos (kekuasaan). Praktiknya dapat ditelusuri ke polis di , ketika warga berkumpul untuk berargumentasi dan menentukan keputusan bersama. Demokrasi saat itu bukan ruang sunyi, melainkan arena silang pendapat.

Artinya, demokrasi tidak alergi terhadap perbedaan. Justru perbedaan adalah bahan bakarnya.

Di Indonesia, demokrasi bekerja melalui mekanisme perwakilan. Aspirasi rakyat disalurkan melalui lembaga seperti . Perdebatan di ruang sidang bukan tanda kekacauan, melainkan proses menemukan keputusan terbaik.

Namun, perdebatan harus berada dalam koridor hukum. mengatur batas dan prosedur agar perbedaan tidak berubah menjadi kekerasan.

Demokrasi juga lahir dari keberanian warga untuk bersuara. Momentum penting di Indonesia terjadi pada , ketika gelombang tuntutan publik memaksa sistem politik bertransformasi. Itu membuktikan, bahwa tekanan warga bisa melahirkan pembaruan.

Lalu mengapa perdebatan kerap dianggap ancaman? Karena kita terbiasa melihat konflik sebagai hal negatif. Di ruang keluarga, perbedaan pendapat sering dianggap tidak sopan. Pola ini terbawa ke ruang publik.

Padahal, demokrasi yang sehat menyediakan ruang aman untuk berbeda.

Tentu, tidak semua perdebatan berkualitas. Demokrasi butuh argumen berbasis fakta, etika dialog, dan kesediaan mendengar. Tanpa itu, perdebatan berubah menjadi polarisasi.

Karena itu, demokrasi bukan sekadar soal memilih pemimpin, tetapi soal membangun budaya diskusi. Ia hidup di ruang kelas, forum warga, media, dan percakapan sehari-hari.

Demokrasi lahir dari keberanian berbeda dan kesediaan mendengar. Ia bukan produk harmoni palsu, tetapi hasil ketegangan yang dikelola dengan dewasa.

Jadi, jika hari ini kita melihat perbedaan pandangan di ruang publik, jangan buru-buru menyebutnya ancaman. Bisa jadi, justru di sanalah demokrasi sedang bekerja.

***

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button