KolomLekstoria

Dari Mana Lahirnya Airmata?

Sejenak mari kita maknai cairan bening di pelupuk mata sebagai bahasa sunyi yang lahir ketika kata-kata tak lagi sanggup memeluk rasa.

ESTORIA — Airmata diperoleh dari pertemuan batin dan tubuh, dari rasa yang tak lagi cukup ditampung oleh kata, lalu mencari jalan keluar melalui air.

Ia memang diproduksi oleh kelenjar lakrimal di sudut mata, tetapi sumber sejatinya jauh lebih dalam: dari ruang-ruang batin tempat kenangan, harapan, luka, dan cinta saling berdesakan.

Air mata adalah peristiwa biologis yang sekaligus spiritual. Ia sederhana secara fisik, tetapi agung secara makna.

Air mata bermula dari getaran paling sunyi di dalam dada.

Sebuah peristiwa mengetuk—pelan atau keras—lalu hati menerjemahkannya menjadi rasa. Rasa itu naik ke kepala, berbenturan dengan ingatan, harapan, dan ketakutan.

Saat pikiran tak sanggup lagi merapikannya, tubuh mengambil alih tugas yang paling jujur.

Kelenjar kecil di balik mata pun bekerja, seolah berbisik: biarlah aku yang berbicara ketika kau tak mampu.

Dari sanalah, cairan bening diproduksi. Mengandung air, garam, dan jejak kimia emosi. Semacam lembap di mata itu adalah penyalur beban jiwa.

Dalam kesedihan, air mata menjadi katarsis. Dalam kebahagiaan, ia menjadi limpahan syukur. Dalam doa, ia menjelma kepasrahan. Bahkan, dalam kemarahan, ia adalah sisa kelembutan yang tak sempat diucapkan.

Air mata bukan tanda kelemahan. Ia adalah bukti bahwa manusia memiliki kedalaman. Bahwa kita bukan hanya makhluk berpikir, tetapi juga makhluk yang merasakan.

Setetes demi setetes air yang jatuh itu adalah bahasa purba yang lebih tua dari logika. Bahasa yang tak membutuhkan tata bahasa, namun selalu dimengerti oleh para hati.

Setiap tetesnya mengajarkan satu hal sederhana, bahwa yang paling jujur dalam diri manusia sering kali tidak berbentuk kata, melainkan jatuh… diam-diam… dari mata.

Maka ketika air mata mengalir, jangan buru-buru menghapusnya dengan malu. Bisa jadi, di sanalah lahir keberanian paling sunyi. Keberanian untuk menjadi manusia seutuhnya.
***

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button