ESTORIAPuisi kebangsaan dengan judul “Tanah Ini Tanah Bersama” karya A'yat Khalili berhasil meraih Juara 1 Lomba Cipta Puisi Tingkat Umum Nasional yang diadakan Garuda TV.

Saat ditanya seusai mendeklamasikannya di malam puncak penghargaan, A'yat menyampaikan perihal proses kreatif penulisan puisi tersebut.

Menurutnya, puisi itu lahir dari kegelisahan sekaligus harapan atas wajah Indonesia yang diuji bencana dan perbedaan.

Ditulis di Jakarta pada 8 Februari 2026, puisi kebangsaan yang ditulisnya ini bukan semata teks puitik, melainkan seruan moral tentang cara kita memandang identitas, solidaritas, dan kemanusiaan.

A’yat Khalili meramu diksi yang sederhana namun reflektif, menempatkan kebangsaan bukan sebagai slogan, melainkan pengalaman batin yang hidup di tengah duka bersama.

Puisi ini bergerak dari kesadaran akan perbedaan—jalan, keyakinan, warna kulit, doa—menuju satu simpul: tanah yang sama-sama dipijak. Dalam konteks Indonesia yang majemuk, pesan tersebut terasa relevan dan mendesak.


Tanah Ini Tanah Bersama

Kita datang dari jalan yang tak sama Menyusuri tapak dan keyakinan yang berbeda Namun tanah membuka dada yang setara Tanpa bertanya agama siapa paling mulia

Ketika airmata jatuh di sudut tiang-tiang negeri Ia juga menetes dari pelupuk mata kita yang berbeda warna kulit dan doa

Perih yang sama tak membuat kita bertanya Suku mana yang paling berhak berkuasa atas duka

Sebab bencana juga tidak pernah memilih terhadap siapa ia akan menghampiri