Apa arti identitas bila petaka tidak mengenal silsilah Banjir, longsor, gempa, menghapus asal-usul darah di antara kita

Ketika Aceh, Sumut, Sumbar bercerita kepadamu melalui suara air yang menelan rumah, keluarga dan margamu, Yang mereka rindu hanya peluk tanah bersama Dekap jiwa yang hangat dan tulus

"Tidak boleh ada yang sendiri-sendiri di tanah ini."

Yang berdarah padamu akan selalu mengalir kepadaku

Kita yang terpisah jarak terikat oleh bahagia dan duka, Sabang hingga Merauke, menerimamu bukan sebagai tamu, bukan sebagai berita, tetapi saudara

Hamparan kekurangan sama-sama kita cicipi Agar tahu lara yang terbagi Menempa kita lebih manusiawi Sebagai bangsa yang punya jati diri

Tanah ini tanah milik kita bersama Maka kalau harus ada luka dan airmata Jangan sampai lupa untuk saling mengusapnya.

Jakarta, 8 Februari 2026


Semacam Pembacaan

Secara tematik, puisi ini bertumpu pada dua poros utama: identitas dan solidaritas. Identitas dipotret bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk dilebur dalam pengalaman kolektif bernama duka. Larik:

Namun tanah membuka dada yang setara Tanpa bertanya agama siapa paling mulia