ESTORIADoeloe, biarlah kata itu kita eja dengan romantisme ejaan lama, betapa girangnya teman-teman penyair jika puisinya nongol di majalah atau koran cetak akhir pekan.

Sekali muat, kebayang si penulis, kayak berasa jadi nabi sehari. Honor di kepala. Utang di warung langganan, LUNAS! Begitu yang saya rasakan saat masih nyantri di Ponpes Annuqayah.

Kalau puisi itu nyata muat di Horison, Annida, Femina, atau koran cetak seperti Kompas dan Jawa Pos, senangnya bukan kepalang. Apalagi, jika tembus rubrik sastra Tempo, sudah pasti, puisi itu bakal difoto, dipajang, dan diunggah ke medsos.

Dengan kebanggaan yang sah dan manusiawi, maka mengalirlah sanjungan dari kawan-kawan penyair, calon penyair, atau para penikmat puisi di kolom komentar FB dan IG.

Ya, kira-kira sebelum era Jokowi, puisi masih jadi anak kandung media cetak. Ia diasuh oleh redaktur sastra yang cerewet, ditimbang dengan ukuran mutu, lalu dipublikasikan dengan penuh wibawa.

Para penyair kala itu bisa menunggu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, hanya untuk satu kali muat. Bahasa Indonesia baku menjadi syarat tak tertulis. Bahasa daerah dianggap terlalu lokal, terlalu sempit atau, “tidak menjual”.

Hari ini, entah, apakah hanya saya yang ngerasa, puisi seperti sudah berada di persimpangan jalan. Antologi puisi, siapa yang mau beli? Kecuali mungkin, teman sendiri.

Di jaman yang kita kenal dengan Gen-Z kini, jangankan proses kreatif, siapa pula yang peduli dengan estetika bahasa, atau sekadar keberlangsungan makna di tengah dunia yang bergerak cepat.

Boleh dibilang, puisi kini seperti kehilangan rumah. Ruang redaksi yang dulu ketat kini mengendur. Di sisi lain, ruang medsos tengah membuka pintu selebar-lebarnya.

Tapi mungkin, justru di sinilah peluang baru lahir: bahasa daerah, yang lama terpinggirkan, menemukan momentumnya.