Karena itu, bahasa daerah memberi peluang bagi puisi untuk kembali jujur. Ia mesti lahir dari pengalaman yang paling dekat.

Jika puisi ingin bertahan di era AI, ia harus kembali menjadi sesuatu yang tak bisa ditiru mesin. Ingatan kolektif, luka kultural, dan suara manusia yang berakar. Di situlah bahasa daerah bakal menjadi rumah terakhir bagi puisi. ***