Entah kenapa kini lanskap itu runtuh. Media cetak menyusut. Rubrik sastra menghilang satu per satu, dan puisi, mulai bermigrasi ke ruang-ruang digital.
Ironisnya, di ruang yang dianggap serba instan itulah, bahasa daerah mulai bernapas kembali. Tak lagi perlu izin redaktur pusat. Tak perlu legitimasi Jakarta. Cukup satu akun media sosial, satu kanal YouTube, atau satu laman media daring, puisi berbahasa Madura, Jawa, Sunda, Bugis, Bali, dan bahasa-bahasa lain bisa hidup dan bertumbuh.
Bahasa daerah menemukan momentumnya karena ia menawarkan sesuatu yang tak bisa disediakan oleh AI: konteks kultural yang hidup.
AI memang bisa meniru kosakata, tapi ia gagap membaca rasa. Ia tak tumbuh di dapur-dapur desa, tak hafal peribahasa lisan, tak paham lapis-lapis makna dalam satu kata daerah yang berubah arti tergantung nada dan situasi.
Puisi berbahasa daerah seperti menjadi sikap kebudayaan. Ia menolak diseragamkan. Ia melawan logika algoritma yang menyukai yang umum, yang netral, dan yang mudah dicerna.
Dalam bahasa daerah, puisi kembali pada akarnya: lisan, komunal, dan berjarak dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Namun demikian, peluang itu tak datang tanpa risiko. Ketika semua orang bisa menulis dan mempublikasikan, mutu menjadi taruhan.
Puisi bahasa daerah yang kita tulis, bisa saja terjebak pada nostalgia dangkal jika sekadar meromantisasi kampung halaman tanpa kedalaman refleksi. Apalagi jika hanya berupa komoditas identitas: ramai, bangga, tapi miskin eksplorasi.
Di sinilah peran penyair menjadi krusial. Bahasa daerah adalah museum kata-kata tua sekaligus medan eksperimentasi. Ia harus berani bicara tentang hari ini. Tentang kemiskinan, migrasi, kekerasan, cinta yang retak, hingga kecemasan hidup modern. Semua itu bisa disampaikan dengan logat lokal dan rasa setempat.
Nasib puisi ke depan mungkin tak lagi ditentukan oleh majalah sastra atau koran nasional, melainkan oleh keberanian penyair menggali bahasa ibunya sendiri.