ESTORIA - Gelombang kritik dari jalanan belum benar-benar usai ketika sebuah temuan mencurigakan muncul di balik rangka kendaraan yang ditumpangi mantan Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto. Hanya beberapa jam setelah ikut dalam aksi demonstrasi di Gejayan, Yogyakarta, Tiyo mengaku menemukan alat pelacak yang bergerak bersamanya sepanjang perjalanan.

 

Peristiwa itu terungkap pada Sabtu (13/06/2026) malam. Saat hendak pulang, ponsel Tiyo tiba-tiba memunculkan notifikasi darurat yang mengindikasikan keberadaan sebuah perangkat pelacak bernama PBX Finder. Peringatan tersebut membuatnya bersama rekan-rekannya melakukan pengecekan terhadap kendaraan yang mereka gunakan.

Hasilnya mengejutkan.

 

Perangkat itu ditemukan terpasang di bagian bawah rangka mobil.

"Sepulang dari Gejayan, saya baru sadar ada notifikasi penting dan genting, sebuah alat pelacak yang bernama PBX Finder ditemukan bergerak bersama saya," tulis Tiyo melalui akun Instagram pribadinya, Minggu (14/06/2026).

 

Ia mengaku tidak mengetahui siapa yang memasang alat tersebut. Namun bagi Tiyo, kemunculan perangkat itu bukan sekadar insiden biasa, melainkan sinyal ancaman terhadap warga yang memilih bersuara kritis.

 

"Entah dipasang oleh siapa, tapi ini adalah kejadian yang sangat menjijikkan," ujarnya.

 

Tiyo bahkan mengaitkan temuan itu dengan situasi demokrasi yang menurutnya semakin tidak ramah terhadap kritik. Ia menilai suara-suara yang disampaikan demi perbaikan bangsa justru berpotensi dibalas dengan intimidasi.

 

"Kita yang mengkritik untuk perbaikan bangsa dengan ketulusan cinta justru dibalas dengan ancaman dan marabahaya," katanya.

 

Temuan ini menambah daftar panjang dugaan tekanan yang pernah dialami Tiyo. Pada Februari lalu, ia mengaku menerima serangkaian teror setelah dirinya bersama pengurus BEM UGM mengirim surat kepada UNICEF terkait kasus bunuh diri anak di Nusa Tenggara Timur (NTT).

 

Konteks kemunculan alat pelacak tersebut juga tak bisa dilepaskan dari aksi demonstrasi yang berlangsung di Gejayan pada hari yang sama. Ratusan massa yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Memanggil memadati simpang tiga Gejayan, Sleman, membawa sedikitnya sepuluh tuntutan kepada pemerintah.

 

Massa yang datang tidak hanya berasal dari kalangan mahasiswa. Akademisi, aktivis, buruh, hingga pengemudi ojek online ikut bergabung dalam aksi yang diwarnai orasi dan pembacaan puisi perlawanan. Jalan utama di kawasan Gejayan pun ditutup total selama demonstrasi berlangsung.

 

Di tengah meningkatnya suhu kritik publik terhadap pemerintah, temuan alat pelacak di kendaraan seorang aktivis mahasiswa menimbulkan pertanyaan serius: apakah ini sekadar ulah pihak tak dikenal, atau bagian dari pola intimidasi yang lebih besar terhadap mereka yang bersuara di ruang publik?

 

Hingga kini belum ada penjelasan mengenai asal-usul perangkat tersebut maupun pihak yang diduga memasangnya.