Setelah dilakukan pemeriksaan, Kementerian ESDM menemukan bahwa persoalan utamanya bukan semata-mata pada jumlah pasokan, melainkan kualitas batu bara yang diterima PLN. Batu bara dengan nilai kalori rendah membuat konsumsi bahan bakar menjadi lebih besar untuk menghasilkan listrik sesuai kebutuhan.
Bahlil menyebut pembangkit membutuhkan campuran batu bara dengan kalori di atas 5.000 agar proses pembangkitan listrik lebih optimal. Menurutnya, aspek teknis seperti ini seharusnya sudah diantisipasi oleh PLN sejak awal.
Ia pun mengkritik manajemen PLN yang dinilai terlambat mengambil langkah mitigasi dan baru menyampaikan keluhan setelah masalah muncul.
"Kalau pemerintah sudah memberikan DMO, urusan teknisnya kan perusahaan. Jangan air sudah di batang leher baru teriak. Makanya dua minggu terakhir ini saya sudah jadi project manager PLN," tegasnya.