Tokyu Bus mengungkapkan sebagian besar pengemudinya saat ini berusia antara 50 hingga 60 tahun atau mendekati masa pensiun. Kondisi tersebut membuat perusahaan harus mencari sumber tenaga kerja baru, termasuk dari luar negeri.

 

Direktur Eksekutif Tokyu Bus, Okano Kyoko, mengatakan kebutuhan akan pengemudi baru akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.

 

"Kami menghadapi kekurangan tenaga kerja yang akan semakin parah di masa depan. Kami tidak punya pilihan selain terus maju," ujarnya.

 

Fenomena ini tidak hanya terjadi di Tokyu Bus. Operator bus di berbagai wilayah Jepang juga menghadapi persoalan serupa. Kelompok industri memperkirakan negara itu akan mengalami kekurangan sekitar 30.000 sopir bus dalam beberapa tahun mendatang.

 

Padahal, layanan bus merupakan tulang punggung transportasi publik di banyak daerah Jepang, terutama kawasan regional yang sangat bergantung pada angkutan darat untuk mobilitas masyarakat maupun wisatawan.